Kolom

Partai Ummat, Gelombang Ummat dan Akhir dari Legacy Politik Sosok Amien Rais

Oleh : Ahmad Khozinudin*

KABARLAGI.COM, Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menanggapi pandangan politik Bung Ainur Rofiq Sophiaan maupun counter opini dari Saudara Ali Murtadho M.S., Loyalis Amien Rais. Tulisan ini hanyalah sebuah Refleksi, bagi siapapun yang ingin mendirikan partai politik dan berjuang secara politik untuk umat.

Tulisan ini juga ingin memberikan pandangan peta jalan bagi perjuangan politik, siapapun dia, jika ingin mengambil legacy politik ibadah. Yakni, aktivitas politik yang tujuannya semata untuk meraih ridlo Allah SWT.

Sebagai pembuka, dengan pilihan bahasa bebas dan ungkapan diksi yang tajam, penulis memahami substansi tulisan Bung Ainur Rofiq Sophiaan. Dalam berbagai kesempatan diskusi di Surabaya, penulis sering menyimak pandangan politik Bung Ainur Rofiq yang tajam, sistematis, dan faktual.

Dari sisi kritik yang dibangun atas Partai Umat besutan Amien Rais, semestinya Loyalis Amien Rais juga tak perlu melihat itu sebagai pandangan yang mendiskreditkan. Cukup diserap dan dijadikan bahan muhasabah (kontemplasi).

Namun, benar pula apa yang disampaikan Saudara Ali Murtadho M.S. Kiranya, semua pihak juga perlu mengapresiasi ikhtiar politik yang ditempuh Amien Rais, tokoh senior, tokoh Reformasi, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Terlepas, Amien Rais mempunyai andil bagi kemajuan bangsa dan memiliki catatan kritis dari sejumlah kalangan, ikhtiarnya untuk membentuk Partai Umat, secara zahir tetap wajib diapresiasi. Dinamika politik memang sering membuat orang berubah haluan, pandangan, hingga pilihan perjuangan. Biarlah, dialektika sejarah yang akan mengabadikannya. Karena kita semua, sejatinya sedang menulis sejarah hidup kita masing-masing.

Pendirian Partai Politik

Landasan filosofis pendirian partai politik wajib ditujukan dalam rangka memenuhi seruan Allah Swt :

“(Dan) hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jamaah) yang menyeru kepada kebaikan (mengajak memilih kebaikan, yaitu memeluk Islam), memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Ali Imran: 104)

Esensi partai politik dibentuk adalah sebagai wadah dakwah untuk menyeru kepada Al Khair yakni Islam dan mencegah dari yang mungkar. Al Munkar berarti seluruh ajaran atau ideologi yang menyimpang dari Islam, termasuk pengabaian dari ketaatan terhadap syariat Islam.

Karena itu, dalam pandangan ideologi Islam Partai Politik wajib berasaskan Islam dan berorientasi untuk menerapkan ideologi Islam, yakni tegaknya hukum Allah SWT. Partai politik tak boleh berasaskan sosialisme, kapitalisme, sekulerisme atau nasionalisme.

Dari aspek asas Partai Umat yang dibentuk Amien Rais dapat kita pahami partai ini adalah partai Islam karena tegas menyatakan berasaskan Islam, meskipun dengan tambahan Islam Rahmatan lil alamin. Dari aktivitas yang akan menjadi orientasi perjuangan partai, Partai Umat memiliki semboyan ‘melawan kezaliman dan menegakkan keadilan’. Jelas, aktivitas ini adalah aktivitas dakwah, yakni bagian dari menyeru kepada yang Ma’ruf (keadilan) dan mencegah dari yang mungkar (kezaliman).

Partai Umat telah menjadikan Umat sebagai subjek dan orientasi politiknya. Maknanya, Partai Umat berjuang bersama dan ditengah-tengah umat untuk menyelesaikan seluruh problem yang menderanya dan mewujudkan berbagai kemaslahatan bagi umat.

Penulis belum mendapat rincian visi misi, platform, jargon politik, serta arah peta jalan politik yang akan ditempuh. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) Partai Umat belum diumumkan, AD ART merupakan konstitusi partai yang darinya publik dapat menilai secara objektif apa dan bagaimana Partai Umat tersebut.

Meskipun mungkin banyak pihak yang menganggap AD ART hanyalah formalitas organisasi, namun bagi siapapun yang ingin menguji dan mendalami secara objektif sebuah partai, pintu awalnya adalah dengan mempelajari AD dan ART nya.

Umat Islam tak akan mungkin melabuhkan pilihan politik kepada PDIP, karena didalam AD ART PDIP tak ada satupun pasal yang menyebut PDIP bervisi menerapkan syariat Islam. Bahkan, PDIP memiliki visi Pancasila yang bisa diperas menjadi Trisila hingga Ekasila.

Alhasil, dari ‘Soft Launching’ Partai Umat kita bisa memahami partai politik yang didirikan tokoh reformasi ini adalah partai Islam, memiliki agenda dakwah Islam. Hanya, untuk merinci lebih lanjut tentang arah tujuan partai, nampaknya publik perlu bersabar lagi menunggu ‘Grand Launching’ dan akses atas materi AD ART Partai Umat.

Gelombang Umat

Agar terdefiniskan dan publik memahami arah substansi tulisan ini, penulis ingin membatasi terma Gelombang Umat pada aspirasi dan kecenderungan umum Umat. Tidak bisa ditampik, bahwa arah aspirasi umat adalah kebangkitan Islam dan kecenderungan umat menginginkan perjuangan yang mampu menyampaikan umat pada penerapan syariat Islam, menegakkan hukum Allah SWT.

Gelombang Umat ini wajib dipahami oleh Partai Umat agar sejalan dengan aspirasi Umat. Partai Gelora telah membuktikan, betapa Gelombang Rakyat yang diarungi justru cenderung menenggelamkan partai besutan Mantan Sekjen Abadi PKS, Anies Matta. Sebab, manuver politik Gelora yang merapat ke istana berseberangan dengan aspirasi yang menggelayuti benak umat.

Jika Partai Umat menempuh jalan sebagaimana telah ditempuh Partai Gelora, bukan mustahil Gelombang Umat juga akan turut menenggelamkan Partai Umat. Agar tak karam ditelan gelombang umat, Partai Umat wajib melakukan Re-orientasi politik yang anti mainstream, dengan menempuh langkah politik :

Pertama, Partai Umat wajib menyimpangi jalan demokrasi, yang jalan ini telah menenggelamkan mayoritas partai dari orientasi Umat menjadi orientasi kekuasaan. Partai Umat perlu mengambil langkah ekstrim, yakni melakukan aktivitas politik tanpa terlibat dalam politik praktis, terutama terlibat dalam perebutan kekuasaan melalui agenda politik Pemilu.

Langkah ini, akan memungkinkan partai umat ‘merdeka’ dan terbebas dari intervensi kekuasaan. Langkah ini mampu melepaskan Partai Umat dari belenggu kekuasaan, berupa hambatan legalitas di Kemenkumham dan tak perlu lagi terikat dengan batas ambang parlemen.

Jika langkah ini tak diambil, Amien Rais membentuk Partai Umat hanya melakukan re-born terhadap PAN yang didirikannya, mengikuti proses dan prosedur demokrasi, terlibat dalam perebutan kekuasaan, maka dipastikan nasib Partai Umat tak akan jauh beda dengan PBB atau bahkan seperti Partai Gelora.

Kedua, Partai Umat harus melakukan perekrutan kader yang benar-benar ikhlas, murni berjuang untuk umat. Sebab, berhimpun dalam sebuah partai politik yang orientasinya hanya dakwah politik, tanpa terlibat dalam kekuasaan, hanya mungkin diikuti oleh orang yang ikhlas.

Partai Umat tak akan mampu mengontrol kader yang berorientasi pada kekuasaan, apalagi jika kader merasa memiliki jaringan, ketokohan dan kekuatan finansial. ‘Tragedi Kongres PAN’ bisa jadi akan berulang di Partai Umat.

Ketiga, Partai Umat fokus membangun koalisi dengan umat, baik dengan Ormas, kelompok kepentingan, LSM, dan elemen civil society. Mengingat, determinasi kekuasaan hanya dapat dilawan dengan kekuatan civil society.

Kasus penolakan RUU HIP menjadi contoh kongkrit dimana determinasi kekuasaan tak mampu menundukkan gerakan umat. RUU HIP terpaksa ditunda karena adanya gelombang Umat yang menentangnya.

Andaikan perjuangan itu hanya dilakukan oleh Partai Politik, sudah barang tentu RUU ini diketok menjadi UU. Mengingat, seluruh partai politik terlepas memberi catatan, pada awalnya setuju RUU ini disahkan menjadi UU.

Kasus ijma’ nya partai politik yang ngotot melanjutkan Pilkada ditengah pandemi, saat mayoritas umat meminta menundanya, menunjukkan jebakan kekuasaan akan memaksa partai meninggalkan Umat. Tak ada satupun alasan yang logis atas ngototnya partai melanjutkan Pilkada ditengah pandemi, selain partai lebih memilih kekuasaan ketimbang memenuhi aspirasi umat.

Keempat, Partai Umat wajib membuat ‘Roadmap’ yang mengantarkan umat pada kebangkitan Islam, pada penerapan syariat Islam, menegakkan hukum Allah SWT. Peta jalan yang dibuat harus rinci, jelas, tanpa tafsir beragam, hingga maknanya bisa ditunjuk dengan jari.

Peta jalan ini menjadi dasar Umat mendukung dan mengoreksi Partai Umat. Tanpa peta jalan, bagaimana Partai Umat akan membawa umat menuju kebangkitan Islam, rasanya partai umat sulit mendapat dukungan Umat dan akan berakhir sebagai ‘Euforia Politik’.

Demikianlah pandangan politik yang bisa penulis kemukakan. Penulis sangat berharap, Partai Umat benar-benar menjadi partai milik Umat, memperjuangkan Umat, dan mewujudkan mimpi umat menegakkan hukum Allah SWT. Penulis juga berharap, sosok seorang Amien Rais di usianya yang kian senja, dapat meninggalkan ‘Legacy Politik’ pejuang dan pembela Umat dengan tidak terjebak dalam arus politik pragmatis dalam sistem Demokrasi.

Ikhlas membentuk partai politik semata untuk ibadah dan dalam rangka meraih ridlo Allah SWT. Amien Yarobbal Alamien.[]

Sastrawan Politik*

Related Articles

Back to top button
Close