Gelar Halal Bihala, UI Pererat Harmonisasi dan Penguatan Persaudaraan

0
452

KabarLagi.Com — Halal bihalal merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang menjadi jembatan sosial bagi warga untuk merajut komunikasi dan silaturahmi, termasuk merajut tali persaudaraan, kata Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Zulfa Mustofa. Ia menambahkan, pada momen itu semua orang berkumpul tanpa melihat latar belakang agama, ras, suku, dan etnis. Tradisi inilah, menurutnya, yang membuat Indonesia tetap utuh meski penuh kebhinekaan dan keragaman.

Hal tersebut disampaikan K.H. Zulfa dalam tausiah di acara halal bihalal yang diadakan secara virtual oleh Universitas Indonesia (UI), pada Senin (9/5). Dengan mengusung tema “Idulfitri 1443 H sebagai Momentum Merajut Silaturahmi, Mempererat Persaudaraan dalam Harmoni Kebinekaan dan Kebangsaan”, acara silaturahmi ini dihadiri Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D.; Ketua Majelis Wali Amanat, Saleh Husin, S.E., M.Si.; Ketua Senat Akademik, Prof. Nachrowi Djalal Nachrowi, M.Sc., M.Phil., Ph.D.; dan Ketua Dewan Guru Besar, Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D.

Dalam kesempatan itu, Rektor UI mewakili pimpinan dan sivitas akademika UI menyampaikan ucapan selamat Idulfitri 1443 H. “Semoga kita sebagai keluarga besar UI terus mempererat silaturahmi, bersinergi meski berasal dari beragam budaya, dan selalu menjaga marwah UI. Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang mencapai kemenangan dalam beribadah. Matahari selalu muncul dari Timur, meskipun kita tidak peduli akan hal itu, tetaplah menjadi baik sepanjang umur karena dalam jiwa kita terpatri nama UI,” kata Prof. Ari.

Dalam tausiahnya, K.H. Zulfa Mustofa juga menyampaikan, kunci keutuhan NKRI dan kekuatan bangsa ini adalah silaturahmi. Menurut K.H. Zulfa, kunci beragama adalah akhlak karena agama datang untuk menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak yang baik meliputi akhlak manusia kepada Allah (habluminallah) dan akhlak manusia kepada sesamanya (habluminannas). Pada bulan Ramadhan, manusia diajarkan berakhlak baik kepada Allah dengan beribadah dan berpuasa untuk meningkatkan spiritualitas. Sementara itu, pada bulan Syawal, manusia diajarkan berakhlak baik kepada manusia dengan cara saling memaafkan dan menyayangi. Mukmin yang unggul adalah yang bisa menjalankan keduanya.