Menggabungkan Aspek Akidah dan Syariat Hadapi Covid-19

0
101

Oleh: Jannatul Ma’wah (Mahasiswa UIN Mataram)

KabarLagi.Com – Hadirnya pandemi Covid-19 di tengah umat Islam dapat menjadi musibah di satu sisi dan ujian di sisi yang lain. Namun, semua sangat bergantung pada cara pandang dan kondisi keimanan seseorang.

Bagaimana tidak, dalam hal menyikapi pelaksanaan ibadah saja umat Islam sudah punya pandangan yang berbeda-beda.

Pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Integrasi Quran (PPIQ) 368 Bandung, KH Iskandar Mirza, menyampaikan bahwa semua sudut pandang itu pada akhirnya akan terlihat dari sudutnya masing-masing. Mereka yang melihat dari perspektif akidah akan menganggap bahwa tak ada yang harus ditakuti dan dikhawatirkan oleh siapa pun terkait virus corona tersebut.

“Virus ini makhluk Allah, izin Allah, maka seharusnya kita lebih takut kepada Allah dibanding dengan mahluk-Nya bernama corona?,” katanya, Selasa (7/6/2022).

Bukankah, lanjut Kiai Iskandar, tidak ada sesuatu pun yang akan menimpa diri seorang hamba, baik di langit maupun di bumi kecuali atas izin Allah SWT?
Anggapan ini dikuatkan dengan dalil bahwa sakit itu adalah penggugur dosa, bahkan mereka yang wafat sebab wabah ini pun digolongkan syahid dalam perspektif syariah.

“Seyogianya tak pantas bagi mereka yang beriman menjauhkan tempat ibadah yang dapat mendekatkan seseorang pada Allah,” katanya.

Namun, hal itu berbeda dengan mereka yang memandang masalah virus ini dari kaca mata syariah, bagi mereka salah satu fungsi dan tujuan syariah adalah menjaga jiwa. Jadi, berikhtiar untuk menjauhkan diri dari virus corona ini adalah menjadi suatu hal yang harus dilakukan.

“Berdalil bahwa Nabi pun menyeru agar kita lari sekencang-kencangnya seperti ketika kita dikejar singa jika wabah itu datang,” katanya.

Dua sudut pandang yang berbeda ini, kata master trainer di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Motivasi Spiritual Qurani (MSQ), seharusnya bukan untuk dipertentangkan, diperdebatkan, dan dipersoalkan.
“Akan tetapi harus dicari solusinya, karena keduanya merupakan pandangan yang sama benarnya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sebagai umat Islam harus tetap meyakini bahwa penyakit dan wabah apapun itu, baik yang langsung dari Allah maupun perantaraan makhluk (rekayasa manusia) pada prinsipnya adalah tunduk pada takdir dan kekuasaan Allah SWT. Sebab itu tunduknya seseorang pada hukum Allah SWT harus melalui jalan syariat yang juga ditunjukkan Allah SWT tentang apa dan bagaimana mengantisipasinya.

“Akidah, syariah dan akhlaq dalam hal ini merupakan perpaduaan yang selaras yang tidak dipisahkan dalam memahaminya,” terangnya.

Karena itu Dosen tetap Pascasarjana di UNINUS Bandung ini menyampaikan, jika kita beriman bahwa wabah adalah dari Allah, maka kita harus mengikuti tuntutan dan tuntunan Allah dan Rasul Nya, agar kita senantiasa berusaha dan berikhtiar untuk lebih mendahulukan mencegah daripada mengobati. “Dengan tetap menjadikan doa sebagai benteng utama,” katanya.