Jejaki Kerja Sama Internasional, Museum NTB adakan Seminar bersama Kurator Museum Australia

0
78

kabarLagi. Com – Dalam rangka membangun kerha sama permuseuman lintas Negara , Museum Negeri NTB gelar seminar internasional bersama Senior Kurator Seni Museum and Art Gallery Northern Territory Australia, Bryony Nainby, yang dilaksanakan di Museum NTB, Rabu, (30/8/2023).

Kegiatan yang bertajuk “Penghormatan Terhadap Leluhur, Dukungan Terhadap Komunitas” dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, H. Aidy Furqan.

Dalam sambutannya, H. Aidy Furqan, menyampaikan apresiasi kepada museum NTB yang telah membangun hubungan kerja sama dengan Museum Art Gallery Northern Territory Australia.

“Saya sangat mengapresiasi hubungan kerja sama yang dirangkaikan dengan seminar ini menunjukan Museum NTB sudah mendunia”, katanya.

Dikataknnya, bahwa dalam melakukan pelestarian budaya, perlu juga untuk melakukan seminar dan diskusi dengan museum-museum luar negeri untuk memahami peran dan fungsi museum.

“Jadi disamping itu juga kita dapat menambah pengetahuan tentang sejarah dan budaya. Terutama budaya kita”, tambahnya.

Dalam seminar ini, lanjutya, menjadi tolak ukur untuk melakukan pengembangan terhadap museum. Sehingga budaya yang berada di NTB ini tidak saja dikenal secara regional, namun dikenal secara nasional maupun internasional.

“Untuk itu saya harap agar museum terus melakukan inovasi dan penjaringan untuk membangun kolaborasi, baik itu nasional maupun internasional”, harapnya.

Sementara itu, Kepala Museum NTB yang diwakili oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kusumawati, beraharap dengan seminar dan kerja sama ini dapat memberikan pengetahuan tentang budaya bagi museum, terutama awal mula budaya dibentuk.

“Jadi saya harapakan kepada peserta seminar untuk mendengar dengan seksama, agar diskusi ini dapat menambah pengetahuab tentang kebudayaan kepada kita”, harapnya.

Selanjutnya, paparan materi oleh Senior Kurator Seni Museum and Art Gallery Northern Territory Australia, Bryony Nainby, mengatakan bahwa ada 2 prinsip penting dalam diskusi ini yaitu dalam konteks sejarah, benda- benda seni dari inspirasi budaya itu tidak bisa dilepas dari sejarah dan filsafat yang diyakini suku atau marga yang membuat benda seni.

Dijelaskan bahwa dalam konteks ini, benda seni yang dipamerkan di Quensen Art Gallery ini sebagai contoh, itu merupakan simbol-simbol dari keyakinan yang diutarakan dan dilakukan lewat ritual, adat isti adat, tarian, lagu-lagu yang lestari dari generasi ke generasi dan alat serta kostum yang dipake dalam upacara-upacara itu sering kali memuat motif.

“Jadi motif-motif itu merupakan khas daya cipta, kreasi, permarga dan suku-suku tersebut”, tuturnya.

Jadi kegiatan seni itu, lanjutnya, bermula pada tahun 1984. Tetapi di akhir tahun 70 an karya-karya yang tadi itu semula dilakukan diatas pasir mulai berubah media menjadi akrilik, dan juga motif-motif itu ditranformasikan dalam batik, itu ditranformasikan dengan bantuan pengrajin-pengrajin indonesia itu disampaikan dalam motif batik, kain sutra dan motif-motif lain disebutkan dengan benda-benda yang membuat karya itu semakin lebih bagus.

“Motif seni yang di presentasi ini, semenjak 40 tahun yang lalu, karya-karya seni seperti ini yang berasal dari gurun bagian tengah itu telah mearik perhatian dan lebih patut dihargai lagi lewat penghargaan karya seni”, katanya.

Dengan mengembangkan kebudayaan setempat, hal tersebut dapat menunjang perekonomian masyarakat lokal dan penguatan pariwisata berbasis kebudayaan.