Enzim Mama: Inovasi Sabun Ramah Lingkungan Mahasiswa dan Dosen FAPERTA UMMAT yang Mulai Dilirik Pasar

0
472
Dosen Earlyna Sinthia Dewi, S.T dan mahasiswa saat memamerkan produk sabun ramah lingkungan dalam kegiatan Expo Mahasiswa UMMAT 2025

KabarLagi.Com–Kreativitas mahasiswa dan dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram (FAPERTA UMMAT) kembali membuahkan hasil yang membanggakan. Di bawah bimbingan Dosen Earlyna Sinthia Dewi, S.T., M.Pd., tim mahasiswa berhasil menciptakan serangkaian produk rumah tangga ramah lingkungan berbasis eco-enzyme yang diberi nama “Enzim Mama”.

Produk yang dikembangkan meliputi sabun cuci piring, pelicin setrika (parfum setrika), deterjen cair untuk cuci baju, dan sabun laundry. Semua produk ini dibuat dari bahan-bahan alami, khususnya limbah rumah tangga seperti kulit buah jeruk, kulit pisang, dan sisa potongan sayur—tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya.

“Eco-enzyme ini merupakan hasil fermentasi dari limbah organik seperti kulit buah dan sayur, dicampur air dan gula merah, kemudian difermentasi selama tiga bulan. Hasilnya mengandung zat antibakteri alami yang sangat cocok digunakan sebagai bahan dasar produk-produk pembersih rumah tangga,” terang Earlyna saat ditemui di kegiatan Expo Mahasiswa UMMAT 2025. Selasa (17/06/2025).

Menurutnya, bahan baku ini sengaja dipilih karena tidak mencemari lingkungan dan justru memanfaatkan limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak bernilai. Produk ini sudah diuji coba selama dua tahun dan telah digunakan oleh banyak pihak.

“Selain sudah dipakai sendiri oleh tim, produk ini juga sudah dijual dan mendapatkan pesanan dari luar daerah. Kami memproduksi secara mandiri dengan dukungan swadaya dan semangat keberlanjutan,” tambahnya.

Dengan merek “Enzim Mama”, produk ini sengaja menyasar segmen ibu rumah tangga yang sehari-hari akrab dengan sabun pencuci, deterjen, hingga pelicin pakaian. Nama “Mama” dipilih karena ingin menunjukkan kedekatan produk ini dengan kebutuhan sehari-hari perempuan di rumah.

Earlyna menjelaskan bahwa mahasiswa terlibat aktif mulai dari proses pengumpulan bahan, fermentasi, pengemasan, hingga pemasaran. “Ini bukan hanya proyek akademik, tapi bentuk nyata kolaborasi riset, wirausaha, dan keberpihakan pada lingkungan,” jelasnya.

Ke depannya, tim berencana menitipkan produk ini di Klinik Vokasi UMMAT serta menjajaki kerja sama dengan pusat-pusat perbelanjaan dan UMKM. “Kami ingin menunjukkan bahwa produk dari limbah pun bisa bernilai tinggi, asal dikembangkan dengan ilmu, ketekunan, dan kepedulian lingkungan,” pungkas Earlyna.

Produk Enzim Mama kini menjadi salah satu contoh terbaik dari hilirisasi inovasi mahasiswa dalam bentuk produk nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat—baik dari sisi ekonomi, edukasi, maupun pelestarian lingkungan.

Setiap produk dikemas dalam botol berukuran 500 ml dan dijual dengan harga yang sangat terjangkau, hanya Rp7.000 per botol. Dengan harga tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan produk berkualitas, tetapi juga ikut serta dalam gerakan peduli lingkungan.