Gunung Sangeang Api: Meletus Setiap 28 Tahun, Jejak Leluhur, dan Ancaman Dua Sesar Besar Nusantara

0
735
Sumber: ekliptika.wordpress.com

KabarLagi.Com-– Gunung Sangeang Api adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Nusa Tenggara Barat, tumbuh dari dasar kaldera purba di laut Flores ribuan tahun lalu. Gunung ini membentuk sebuah pulau vulkanik seluas 153 km² yang kini dikenal sebagai Pulau Sangeang. Ia memiliki dua puncak, Doro Sangeang (1.949 m) dan Doro Mantoi (1.795 m), serta kawah aktif di puncak Doro Api. Letusan besar terakhir terjadi pada 30 Mei 2014, dengan kolom abu mencapai 12 mil ke udara (Hall, 2014), mengganggu penerbangan internasional dan memaksa warga mengungsi.

Secara geologi, Sangeang terletak dalam wilayah yang sangat aktif secara tektonik. Di selatan terdapat zona subduksi Sunda, tempat lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah lempeng Eurasia. Di utara, membentang Sesar Flores, patahan mendatar aktif yang kerap memicu gempa besar, termasuk tsunami tahun 1977 dan 1992 (PVMBG, 2014). Lokasi strategis di antara dua sumber energi besar bumi inilah yang membuat Sangeang terus aktif, bahkan menunjukkan pola letusan berulang hampir setiap 28 tahun (Global Volcanism Program, 2014; Pratomo, 2006).

Tak hanya menjadi objek geologi, Gunung Sangeang juga mengandung nilai historis dan kultural yang tinggi. Menurut cerita rakyat, gunung ini adalah tanah asal leluhur masyarakat Pulau Palue, Flores. Migrasi mereka dipicu oleh kesalahpahaman terhadap ajaran sunat dalam Islam, menyebabkan perpindahan ke Gunung Roke Tende. Hingga kini, kemiripan dalam ritual adat dan nyanyian tradisional masih dapat dirasakan antara kedua wilayah ini, menguatkan ikatan budaya yang telah berlangsung turun-temurun.

Dalam sejarah Nusantara, Sangeang juga tercatat dalam naskah Negarakertagama dari zaman Majapahit dan bahkan muncul dalam catatan Eropa seperti novel The Juang. Keberadaannya di jalur pelayaran membuat pulau ini dikenal luas, walau kalah populer dibanding Tambora. Letusannya mungkin lebih senyap, namun pengaruhnya menyentuh banyak aspek kehidupan—alam, migrasi, hingga spiritualitas.

Menurut Turner dkk. (2003), magma di bawah Sangeang menunjukkan proses evolusi kompleks dengan dominasi magma potasik, mencerminkan kekayaan kimiawi gunung ini yang juga menjadi objek penelitian internasional. Maka, Sangeang bukan hanya “gunung berapi”, tetapi gunung berjiwa Mountain of Spirits sebagaimana dijuluki Hall (2014). Ia adalah penjaga tanah, penutur legenda, sekaligus penyeimbang antara manusia dan alam, meletus dalam siklus alamiah yang misterius namun teratur. (Kan Sangiang)

sumber

  • PVMBG. 2014. Peningkatan Status G. Sangeang Api dari Waspada Menjadi Siaga, 30 Mei 2014.

  • Global Volcanism Program – Smithsonian Institution. 2014. Sangeang Api.

  • Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Aktif Indonesia. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 4.

  • Turner dkk. 2003. Rates and Processes of Potassic Magma Evolution Beneath Sangeang Api Volcano. Journal of Petrology, Vol. 44 No. 3.

  • Hall. 2014. Mail Online – Mountain of Spirits.

  • Volcano Planet. 2014. Sangeang Api, News & Updates.

  • https://ekliptika.wordpress.com/