Ekonomi NTB Kian Bergairah, Pariwisata, Pertanian, dan Ekspor Jadi Motor Pertumbuhan

0
53

KabarLagi.Com–Kinerja perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga pertengahan tahun 2026 menunjukkan tren yang semakin menjanjikan. Sejumlah indikator utama memperlihatkan perbaikan, mulai dari meningkatnya kesejahteraan petani, pulihnya sektor pariwisata, bertambahnya mobilitas masyarakat, hingga melonjaknya capaian ekspor. Meski inflasi masih terjadi akibat penyesuaian harga energi dan beberapa komoditas pangan, kondisi tersebut dinilai belum menghambat laju aktivitas ekonomi daerah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., menjelaskan bahwa perkembangan berbagai indikator ekonomi hingga Juni 2026 mencerminkan daya tahan ekonomi daerah yang tetap kuat. Menurutnya, sektor-sektor produktif masih menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi NTB.

“Berbagai indikator memperlihatkan sinyal yang menggembirakan. Daya beli petani membaik, aktivitas pariwisata meningkat, mobilitas masyarakat terus bertambah, dan perdagangan luar negeri masih memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian daerah,” ujar Wahyudin saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS), Rabu (1/7).

BPS mencatat inflasi tahunan NTB pada Juni 2026 mencapai 3,55 persen. Sementara itu, inflasi bulanan sebesar 0,37 persen dan inflasi kumulatif sejak awal tahun berada pada angka 2,12 persen.

Menurut Wahyudin, kenaikan inflasi dipicu oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Turbo, yang berdampak pada meningkatnya tarif angkutan udara. Selain itu, kenaikan harga bawang merah, bawang putih, cumi-cumi, dan kubis turut memberikan tekanan terhadap indeks harga konsumen.

Namun demikian, kondisi tersebut masih dapat diimbangi oleh penurunan harga sejumlah komoditas penting seperti cabai rawit, daging ayam ras, serta emas perhiasan. Bertambahnya pasokan hasil panen di sejumlah daerah juga ikut menjaga stabilitas harga pangan.

Di sektor pertanian, kesejahteraan petani menunjukkan peningkatan. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Juni 2026 tercatat sebesar 130,95 atau naik 0,39 persen dibandingkan Mei 2026. Angka tersebut mengindikasikan bahwa pendapatan yang diterima petani dari hasil produksinya masih tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya produksi maupun kebutuhan konsumsi rumah tangga.

Peningkatan NTP didorong oleh membaiknya kinerja subsektor tanaman pangan dan hortikultura, terutama karena naiknya harga gabah, jagung, tomat, kacang tanah, dan bawang putih. Empat subsektor, yakni tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perikanan, bahkan mencatatkan NTP di atas 100, yang menunjukkan kondisi usaha tani masih berada dalam posisi yang menguntungkan.

Perbaikan juga terlihat pada sektor pariwisata. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Mei 2026 mencapai 41,07 persen atau naik 5,01 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menandakan meningkatnya aktivitas wisata di NTB.

Jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung tercatat mencapai 1.332.393 orang. Angka ini meningkat 10,49 persen dibandingkan April 2026 dan naik 13,20 persen dibandingkan Mei 2025.

Menurut Wahyudin, peningkatan kunjungan wisata dipengaruhi oleh momentum libur panjang serta penyelenggaraan sejumlah agenda nasional dan internasional, seperti GT World Challenge Asia di Pertamina Mandalika International Circuit dan Rinjani 100 Ultra 2026 di Sembalun. Berbagai kegiatan tersebut turut menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, perdagangan, hingga usaha mikro masyarakat.

Mobilitas masyarakat juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Jumlah penumpang angkutan laut, baik yang datang maupun berangkat, meningkat lebih dari 15 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, penumpang penerbangan domestik melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid juga bertambah sebesar 4,23 persen.

Pada sektor perdagangan internasional, NTB mencatatkan kinerja yang sangat impresif. Nilai ekspor selama Januari hingga Mei 2026 mencapai US$1,27 miliar atau melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produk ekspor utama masih didominasi komoditas tembaga, ikan dan udang, serta perhiasan dan permata dengan pasar utama Tiongkok, Thailand, dan Amerika Serikat.

Meski nilai ekspor pada Mei 2026 secara tahunan mengalami penurunan akibat berkurangnya pengiriman tembaga hasil industri smelter dan mutiara yang belum diolah, Wahyudin menegaskan bahwa secara kumulatif performa ekspor sepanjang tahun berjalan tetap sangat kuat dan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Sementara itu, nilai impor NTB selama Januari–Mei 2026 tercatat sebesar US$36,48 juta atau turun 71,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya impor barang modal serta bahan baku pada beberapa kelompok komoditas.

Menutup pemaparannya, Wahyudin menyampaikan bahwa berbagai indikator ekonomi tersebut memberikan optimisme terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan-triwulan mendatang. Meski kewaspadaan terhadap inflasi tetap diperlukan, penguatan sektor pertanian, pariwisata, transportasi, dan perdagangan dinilai menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Yang terpenting adalah menjaga stabilitas harga agar penguatan sektor-sektor produktif dapat terus berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat NTB,” tutupnya. (Sumber:KominfoNTB)