KabarLagi.com—Bantuan kemanusiaan kepada saudara-saudara kita yang terdampak gempa di Manggarai Timur dan NTT adalah kewajiban kemanusiaan. Namun, bagi masyarakat Bima, ada alasan lain yang membuat kita harus bergerak lebih kuat, akar sejarah dan hubungan kebudayaan yang telah terjalin sejak lama.
Bima dan Manggarai memiliki jejak sejarah yang panjang. Pengaruh Kerajaan Bima pernah hadir di sejumlah wilayah Manggarai, termasuk Pota dan Reo. Hubungan perdagangan, migrasi, perkawinan, bahasa, dan kebudayaan kemudian membentuk ikatan masyarakat yang masih terasa hingga hari ini. Di sejumlah wilayah pesisir seperti Labuan Bajo, Pulau Misa, Papagarang, Bari, Reo, Pota,Riung, Longos, waso, dampe, terang, robe, hingga beberapa daerah lainnya, jejak bahasa dan kebudayaan Bima masih dapat ditemukan.
Karena itu, ketika saudara-saudara kita tertimpa musibah, kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Mari masyarakat Bima di NTB, para perantau, mahasiswa, organisasi, pelaku usaha, dan seluruh elemen masyarakat bersama-sama membantu, baik melalui doa, tenaga, logistik maupun dukungan pendanaan.
Kapal-kapal masyarakat dari Sangiang dan Sape juga dapat didorong untuk menjadi bagian dari jalur kemanusiaan, terutama membantu mengangkut logistik ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau, melalui koordinasi dengan pemerintah dan pihak terkait.
Saya juga berharap Pemerintah Kabupaten Bima dan Pemerintah Provinsi NTB ikut mengambil bagian dalam membantu korban gempa di NTT, sekaligus memastikan warga asal Bima yang berada di wilayah terdampak dan belum mendapatkan bantuan turut memperoleh perhatian.
Kemanusiaan adalah kewajiban kita. Sejarah adalah akar yang menguatkan langkah kita untuk bergerak lebih jauh.
Dari Bima untuk Manggarai.
Dari NTB untuk NTT.
Saat saudara tertimpa musibah, kita hadir.
