Mengembalikan Mbojo Mantoi, Agama dan Adat Jadi Landasan Menjaga Dana Mbojo

0
13

KabarLagi.com—Gagasan untuk menguatkan kembali nilai agama, adat, dan budaya Bima kembali mengemuka setelah Forum Umat Islam Bima Raya menyampaikan rencana menggelar sidang ilmiah bertema “Bagaimana Cara Mengembalikan Mbojo Mantoi”.

Tema tersebut dinilai relevan dengan berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat, mulai dari penyalahgunaan narkoba, perilaku yang dinilai menyimpang dari norma sosial, penggunaan bahasa yang kasar, hingga melemahnya kepedulian terhadap etika dan adat istiadat.

Kehadiran Forum Umat Islam Bima Raya menjadi momentum untuk mengajak masyarakat bersama-sama melihat kembali nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bima.

Agama dan budaya dipandang memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat. Agama menjadi landasan moral, sementara adat dan budaya menjadi perekat yang menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat.

Dalam sejarah budaya Bima, dikenal simbol Garuda Kepala Dua yang dimaknai sebagai gambaran berdampingannya nilai agama dan adat. Keduanya menjadi bagian dari identitas masyarakat serta pedoman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Persoalan lunturnya pemahaman terhadap adat, norma, dan etika juga menjadi perhatian. Generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi memahami nilai yang terkandung di dalamnya dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menggunakan media sosial.

Ungkapan yang menyebut bahwa “jika ingin menghancurkan Bima, hancurkan adatnya” juga kembali disinggung sebagai refleksi tentang pentingnya menjaga adat dan identitas masyarakat. Ungkapan tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari narasi sejarah yang perlu ditelusuri sumbernya, bukan sekadar diterima sebagai fakta tanpa kajian.

Melalui sidang ilmiah yang akan digelar, Forum Umat Islam Bima Raya diharapkan dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas dan objektif mengenai masa depan budaya Mbojo.

Upaya mengembalikan “Mbojo Mantoi” bukan sekadar bernostalgia dengan masa lalu, tetapi bagaimana nilai-nilai baik dalam agama, adat, etika, dan budaya dapat kembali menjadi pegangan dalam menghadapi perubahan zaman.

Menjaga Dana Mbojo pada akhirnya menjadi tanggung jawab bersama—dengan agama sebagai landasan, adat sebagai identitas, dan budaya sebagai penyatu masyarakat.