Satu-satunya di Asia, Prodi Kedokteran Penerbangan FKUI Peringati 10 Tahun Berdiri

0
139

Depok–Program Studi (Prodi) Kedokteran Penerbangan, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia (FKUI) memperingati sepuluh tahun berdiri mencetak para dokter spesialis kedokteran penerbangan, dan mengadakan webinar bertajuk “Peran Serta Kedokteran Penerbangan dalam Masa Pandemi COVID-19” yang berlangsung pada Sabtu (29/8). Hingga sekarang, Prodi Kedokteran Penerbangan ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Asia.

Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB membuka kegiatan Lustrum ke-2 Prodi Kedokteran Penerbangan FKUI tersebut. Dalam sambutan, Prof. Ari Fahrial menuturkan, “Kami sangat mengapresiasi pencapaian berdirinya 10 tahun Prodi Kedokteran Penerbangan FKUI. Saat ini, FKUI memiliki 31 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Prodi Kedokteran Penerbangan FKUI menjadi salah satu PPDS yang berhasil mencetak para lulusan yang telah berkiprah di lintas lembaga yang mengurusi penerbangan. Melalui pertemuan virtual ini, diharapkan ada beragam masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya materi pengajaran semasa perkuliahan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan di industri. Selain itu, diskusi kali ini juga mampu merumuskan upaya menjaga keselamatan para pelaku dan pengguna jasa penerbangan. Protokol kesehatan bisa dijalankan di dalam penerbangan khususnya penerbangan nasional.”

Ketua Prodi Kedokteran Penerbangan FKUI, Prof. dr. Budi Sampurna, DFM., S.H., Sp.F(K), SpKP menuturkan, “Kedokteran Penerbangan kerap dikenal sebagai aerospace atauaviation medicine. Prodi Kedokteran Penerbangan FKUI yang telah berdiri sejak tahun 2010 merupakan prodi yang sangat langka, dan hanya ada 5 program studi serupa di dunia. Setelah 10 tahun berdiri, prodi Kedokteran Penerbangan FKUI telah berhasil mencetak 64 dokter spesialis kedokteran penerbangan. Para alumni kami tersebar di beragam lembaga seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perhubungan – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Pertahanan, TNI AU, beberapa rumah sakit, perusahaan evakuasi medik, maskapai penerbangan, serta institusi lainnya sesuai dengan kebutuhan yang berkembang.”

Prof. Budi Sampurna menguraikan dua tugas utama dokter spesialis kedokteran penerbangan di dalam memberikan pelayanan kesehatan. “Pertama, membina kesehatan fisik dan mental awak angkutan udara, baik itu tingkat perorangan, maupun tingkat komunitas penerbangan seperti di maskapai penerbangan, kedinasan TNI, dan Kementerian Perhubungan. Kedua, menguji kesehatan awak angkutan udara untuk dinyatakan fit dan layak memperoleh lisensi,” ujar Prof. Budi.

Pada kegiatan webinar, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan yang diwakili oleh dr. Inne Yuliawati, Sp.K.P, menyampaikan pidato kunci. Menurutnya, “Berdasarkan data internasional yang dicatat oleh ICAO, terjadi penurunan volume lalu lintas penumpang pesawat sebesar 28,4% atau setara dengan 612 juta penumpang pada 4 bulan pertama di tahun 2020. Pada domestik diperkirakan terjadi penurunan 50% jika dibandingkan tahun 2019. Pandemi COVID-19 berdampak pada jasa penerbangan kita. Untuk itu, melalui webinar ini kami menanti masukan dan rekomendasi terkait mitigasi adaptasi normal baru di dunia penerbangan.”

Lebih lanjut, dr. Inne juga menyebutkan bahwa penentuan kelaikan terbang (Fit to Fly) bagi Awak Penerbangan kini telah dapat dilakukan di luar Jakarta, yaitu di Bali dan Mataram. Hal ini bertujuan agar memudahkan pemeriksaan kesehatan dalam menentukan kelaikan terbang sehingga kesehatan dan keselamatan penerbangan tetap terjamin.

Narasumber yang tampil di webinar ini adalah 5 dokter spesialis kedokteran penerbangan lulusan FKUI yang telah berkiprah dalam membantu pemerintah dalam melayani masyarakat pada umumnya dan komunitas penerbangan pada khususnya. Mereka adalah dr. Mirza Irwanda, Sp.K.P (sekarang ini aktif di Direktorat Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan); dr. Inne Yuliawati, Sp.K.P (Balai Kesehatan Penerbangan Kementerian Perhubungan); dr. Hendro Y, MS, Sp. An, Sp.K.P (TNI Angkatan Udara); dr.Citra Kurniasari, Sp.K.P.(Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan); dan dr. Imam Teguh Pribadi, Sp.K.P (PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk). Rekaman webinar dapat ditonton kembali pada lamanhttps://www.youtube.com/watch?v=5hbFO0flD08.

Prodi Kedokteran Penerbangan FKUI bertujuan menghasilkan lulusan-lulusan terbaik untuk berpartisipasi dalam keselamatan penerbangan internasional. Para dokter spesialis ini akan memiliki kompetensi untuk memberikan pelayanan kesehatan penerbangan sesuai standar internasional dan juga terlibat dalam kegiatan penelitian untuk kemajuan ilmu kedokteran penerbangan. Pada tahun 2020, kolegium bersama prodi Kedokteran Penerbangan FKUI dan disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia juga telah menyesuaikan tingkat kompetensi bagi lulusan pendidikan kedokteran penerbangan FKUI sehingga diharapkan memiliki kapabilitas dan profesionalitas yang menjawab kebutuhan industri serta khususnya mengelola dampak pandemi COVID-19 bagi jasa penerbangan. Beberapa mata kuliah di prodi Kedokteran Penerbangan FKUI adalah Aerofisisiologi, Higiene Penerbangan & Antariksa serta transportasi & Evakuasi Medik Penerbangan