KabarLagi.Com — Sebagai bagian dari upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila dalam program merdeka belajar, Program Doktor Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) menggelar kegiatan sharing knowledge secara daring pada Sekolah Indonesia Bangkok pada Jumat (15/10/2021).
Sebelum acara sharing dimulai, kegiatan tersebut diisi dengan sambutan Direktur Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Dalam sambutannnya Prof Dedi Purwana sangat mengapresiasi kegiatan sharing knowledge yang dilakukan Program PKLH UNJ. Menurutnya kegiatan ini sangat selaras dengan target UNJ yang sedang mengajukan akreditasi internasional.

“ Kami saat ini sedang melakukan akreditasi internasional semua jurusan, dengan adanya kegiatan ini sangat relevan dengan program UNJ. Apalagi visi kami yaitu mewujudkan kampus yang berbasis riset.,” katanya.
Ia juga mengajak semua pihak baik dosen dan mahasiswa berkolaborasi untuk mewujudkan visi UNJ menjadi kampus yang unggul.
“Kegiatan seperti ini merupakan kegiatan luar biasa yang menginternasionalisasikan UNJ. Jadi saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Sharign Knowledged merupakan aktualiasi ilmu yang didapatkan dari kampus,” ungkapnya.
Sementara itu Dosen pengampu kegiatan tersebut, Profesor, Doktor Nadiro M. PD mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu implementasi dari mata kuliah yang dirinya ajarkan kepada para mahasiswa. Mata kuliah tersebut kata dia yaitu strategi dan inovasi pembelajaran PKLH.

“Jadi kegiatan ini adalah tugas mahasiswa S3 PKLH pada mata kuliah yang saya bimbing. Para mahasiswa dituntun untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila pada program merdeka belajar. Dan Allhamdulilah mahasiswa melakukan dengan kegiatan sharing knowledge dengan sekolah Indonesia Bangkok,”katanya.
Mantan Direktur Pascasarjana UNJ ini juga menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah dilaksanakan pertama pada Sekolah Indonesia Kualumpur. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat (8/10/2021) kemarin.
” Jadi hari ini Jumat itu (red) adalah kegiatan yang kedua dan dilaksanakan lewat online di Sekolah Indonesia Bangkok,”katanya.
Sementara itu Kepala Sekolah Indonesia (SKI) Bangkok,Susianto S.Pd, M, SI sangat menyambut baik kegiatan yang digagas oleh Prodi PKLH UNJ ini. Menurutnya kegiatan seperti ini merupakan kegiatan yang luar biasa sehingga dirinya dan para guru serta siswa sangat antusias mengikuti acara.
“ Kami sangat senang dengan kegiatan ini. tentunya ini kesempata yang baik bagi kami apalagi tema yang akan disampaikan begitu luar biasa menambah ilmu dan pengetahuan bagi para siswa,” ungkapnya.
Usai sambutan tersebut, pembicara pertama Sisi Nur Asia dengan materi ‘Gizi Seimbang dan Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Upaya Pencegahan Stunting, Dalam pemaparannya masa remaja merupakan masa dimana pertumbuhan fisik, mental, dan emosional berubah sangat cepat. Saat ini adalah usia yang sangat berharga.
Pada masa ini kata dia terjadi percepatan pertumbuhan ke 2 atau growth spurt ke 2. Dalam siklus hidup manusia ada 2x kesempatan percepatan pertumbuhan artinya pertumbuhan sedang masif masifnya yaitu pada 2 tahun pertama kehidupan dan pada masa remaja.
“Hal ini tentu saja menuntut kebutuhan gizi yang seimbang, yang optimal untuk mencapai pertumbuhan yang maksimal yang membuat remaja bisa beraktivitas, kreatif, enerjik dan dapat berprestasi,” katanya.
Ia juga mengatakan Gizi baik menjadi landasan setiap individu mencapai potensi maksimal yang dimiliki. Tidak terpenuhinya kebutuhan gizi pada masa ini dapat berakibat terlambatnya pematangan organ-organ seksual dan hambatan pertumbuhan.
Pada masa ini pula kecukupan gizi penting untuk mencegah terjadinya penyakit kronik yang terkait gizi pada masa dewasa kelak. Remaja sekarang adalah orang tua dimasa datang. Perempuan yang pada masa remajanya tidak tercukupi kebutuhan gizinya dan hamil/melahirkan di usia muda memiliki potensi untuk melahirkan anak yang stunting
“ Anak yang stunting (gagal tumbuh) bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, serta produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif,” ujarnya
Dosen FKM Uhamka yang dikenal ramah ini juga mengemukakan seorang remaja harus 1. makan dengan beraneka ragam atau bervariasi dalam setiap kali makan. Dengan mengikuti pedoman gizi seimbang yang divisualisasikan dengan tumpeng gizi dan piring makanku dalam setiap kali makan. 2. Berperilaku hidup bersih dan sehat. 3. Beraktifitas fisik secara teratur, minimal 3-5 kali dalam seminggu. 4. Mempertahankan berat badan ideal atau normal.
“Dengan gizi yang baik pola hidup yang sehat maka remaja akan menjadi sehat. Dan remaja sehat itu KEREN (Kreatif, Enerjik, Ramah, Empati dan berNalar),” pungkasnya.
Sementara pembicara kedua, Faisal M Jasin menyampaikan materi upaya membangun sekolah ramah lingkungan . Menurutnya Tekanan Penduduk, pertumbuhan ekonomi dan perilaku konsumsi masyarakat yang berlebih berimplikasi pada perubahan kualitas lingkungan, oleh karena jumlah penduduk yang berlebih akan terus membutuhkan ruang sebagai tempat tinggal dan lainnya.
“ Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi, masyarakat berkompetisi untuk melakukan ekploitasi sumberdaya alam untuk pembangunan. Selanjutnya Dengan prilaku konsumsi yang buruk, berimplikasi pada meningkatnya volume sampah. Hal ini bukan tidak bisa tetapi perlu dilakukan secara bijak agar ruang kehidupan, sumber daya alam dapat menyisakan bagi keberlanjutan kehidupan bagi semua,” Ujarnya
Ia juga menjelaskan perlunya kesadaran semua pihak dan merubah perilaku. Untuk merubah perilaku masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai cara salah satunya melalui Pendidikan.
“ Apakah Pendidikan formal, informal atau non formal. Pada Pendidikan Formal, di Sekolah, Pemerintah telah mencanangkan Program Adiwiyata. Melalui Gerakan peduli dan berbudaya lingkungan yang merupakan aksi kolektif secara sadar, sukarela, berjejaring, dan berkelanjutan yang dilakukan oleh Sekolah dalam menerapkan perilaku ramah lingkungan hidup. Dan Penghargaan Adiwiyata yaitu penghargaan bagi sekolah yang peduli lingkungan yang sehat, bersih serta lingkungan yang indah dengan budaya ramah lingkungan,” jelasnya
Selanjutnya kata dia dalam membangun sekolah adiwiyata, ada 4 komponen penting sebagai standar yang dapat diukur, dilihat dan dievaluasi, yaitu: Aspek kebijakan sekolah yang berwawasan lingkungan, kurikulum sekolah berbasis lingkungan, kegiatan sekolah berbasis partisipatif dan pengelolaan sarana dan prasarana pendukung sekolah yang ramah lingkungan.
