KabarLagi.com—Temuan kasus Tuberkulosis (TBC) pada anak menjadi alarm bagi Lombok Barat. Pemerintah daerah kini mendorong pelacakan lebih luas untuk mencari sumber penularan, terutama dari kontak erat di lingkungan keluarga.
Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha mengatakan, kasus TBC pada anak tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan pasien. Temuan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan mencari kemungkinan sumber penularan di sekitarnya.
“Kalau ada anak atau balita kita yang TBC, berarti di sekitarnya ada orang dewasa yang positif TBC. Karena itu tracking sangat penting,” kata Nurul Adha saat menghadiri Senam Sehat di Plaza Utama Alun-Alun Giri Menang Park, Gerung, Minggu (9/8).
Data skrining 2025 menunjukkan, dari 1.552 anak yang diperiksa di Lombok Barat, sekitar 206 anak terindikasi positif TBC. Angka ini dinilai perlu menjadi perhatian serius karena setiap temuan harus dilanjutkan dengan pemeriksaan medis, pengobatan dan penelusuran kontak erat.
Nurul mencontohkan kasus seorang balita yang mengalami batuk berkepanjangan hingga kemudian terdiagnosis TBC. Setelah dilakukan penelusuran, dugaan sumber penularan mengarah kepada anggota keluarga lanjut usia yang juga terinfeksi.
“Yang paling rentan tertular adalah anak-anak kita, terutama balita,” ujarnya.
Pemkab Lombok Barat pun menargetkan tracking TBC tidak berhenti di titik-titik tertentu, tetapi diperluas ke seluruh kecamatan hingga desa.
Langkah ini diarahkan untuk menemukan kasus lebih cepat sekaligus memutus rantai penularan sebelum semakin meluas di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Masyarakat juga diminta tidak menyepelekan gejala yang mengarah pada TBC dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Insyaallah tidak hanya di satu tempat, tetapi di seluruh kecamatan dan desa akan dilakukan tracking TBC untuk menyiapkan Lombok Barat yang sehat,” pungkasnya.
