Ketika Bolos Bukan Sekadar Bolos: Ada Luka yang Diam-Diam Meminta Didengar

    0
    19

    KabarLagi.com—Pagi itu, seragam sekolah seharusnya membawa langkah anak-anak menuju ruang kelas. Buku berada di dalam tas, guru menunggu di depan papan tulis, dan pelajaran akan segera dimulai.

    Namun, tidak semua langkah berakhir di ruang kelas.

    Beberapa siswa justru memilih meninggalkan sekolah. Mereka pergi sebelum pelajaran dimulai, mencari tempat lain untuk menghabiskan waktu. Dari luar, pemandangan itu mungkin terlihat sederhana: anak sekolah membolos.

    Tetapi hari itu, sebuah pendekatan berbeda dipilih.

    Tidak ada bentakan. Tidak ada penghakiman. Anak-anak yang ditemukan meninggalkan sekolah diajak duduk dan berbicara. Perlahan, satu pertanyaan sederhana dilontarkan.

    “Kenapa kamu pergi dari sekolah?”

    Pertanyaan itu rupanya membuka pintu yang selama ini tertutup rapat.

    Salah seorang siswa hanya menundukkan kepala. Tidak banyak kata yang keluar. Suaranya pelan ketika mulai bercerita tentang rumah yang tidak lagi terasa seperti tempat paling nyaman untuk pulang.

    Ada sesuatu yang retak di sana.

    Keluarga yang seharusnya menjadi tempat pertama untuk mendapatkan rasa aman ternyata sedang menghadapi persoalannya sendiri. Dan di tengah keadaan itu, membolos menjadi salah satu cara yang ia tahu untuk melarikan diri.

    Bukan semata-mata karena ia tidak ingin belajar.

    Mungkin, jauh di dalam dirinya, ada keinginan sederhana yang belum tersampaikan: ingin diperhatikan, ingin ditanya, dan ingin didengar.

    Kisah itu mengingatkan bahwa perilaku seorang anak tidak selalu bisa dibaca hanya dari apa yang terlihat.

    Anak yang sering membolos belum tentu malas. Anak yang diam belum tentu baik-baik saja. Anak yang terlihat tidak peduli bisa saja sedang menyimpan persoalan yang terlalu berat untuk diceritakan.

    Sayangnya, ada stigma yang sudah lama melekat pada banyak anak laki-laki:

    “Laki-laki tidak bercerita.”

    Mereka diajarkan untuk kuat, menahan air mata, menyimpan masalah sendiri dan tidak banyak mengeluh.

    Padahal, bercerita bukan tanda kelemahan.

    Bercerita adalah keberanian untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.

    Karena itu, sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai dan menyelesaikan pelajaran. Sekolah juga bisa menjadi tempat seorang anak menemukan telinga yang mau mendengarkan ketika dunia di rumah sedang terasa terlalu berat.

    Guru bukan sekadar orang yang berdiri di depan kelas. Bagi sebagian anak, guru bisa menjadi sosok dewasa yang pertama kali bertanya dengan tulus, “Kamu sebenarnya sedang kenapa?”

    Ruang Bimbingan dan Konseling (BK) pun seharusnya tidak dipandang sebagai ruang untuk menghukum anak yang bermasalah. Ia bisa menjadi ruang aman untuk bercerita, mencari jalan keluar, dan menemukan kembali alasan untuk bertahan.

    Kepada anak-anak yang hari ini merasa rumahnya tidak lagi sehangat dulu, jangan simpan semuanya sendirian.

    Jika sulit bercerita kepada orang di rumah, carilah orang dewasa yang dipercaya. Temui guru. Datanglah ke ruang BK. Ceritakan apa yang sedang dirasakan.

    Tidak harus langsung semuanya.

    Satu kalimat pun cukup untuk memulai.

    “Pak, Bu, saya sedang tidak baik-baik saja.”

    Mungkin kalimat sederhana itu adalah awal dari pertolongan yang selama ini diam-diam dicari.

    Sebab di balik seragam sekolah yang ditinggalkan hari ini, mungkin ada luka yang tidak terlihat.

    Dan terkadang, seorang anak tidak membutuhkan ceramah panjang.

    Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di sampingnya, mendengarkan tanpa menghakimi, lalu berkata:

    “Kamu tidak sendirian.”