Teka Ra Ne’e Politik: Gerakan Tulen Rakyat Bima untuk Perubahan di Bawah Ady-Irfan

0
897
Alfaris Thalib Mahasiswa Doktor PTIK Jakarta

Bima, NTB — Fenomena gerakan rakyat yang penuh semangat mendukung pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Bima nomor urut 1, Ady-Irfan, semakin mencuri perhatian publik. Tak hanya sekadar dukungan kampanye, masyarakat Bima, khususnya di Kecamatan Wera, menunjukkan kesungguhan dengan menyumbangkan uang, beras, hasil panen, bahkan mencetak sendiri alat peraga kampanye. Tindakan ini dinilai sebagai bukti nyata keinginan mereka untuk membawa perubahan signifikan di Kabupaten Bima.

“Ini adalah gerakan nurani dari rakyat yang merindukan perubahan,” ujar Alfaris Thalib, Wakil Sekjen DPP BMMB, yang juga menjadi saksi hidup semangat gotong royong masyarakat dalam kampanye kali ini. Alfaris menjelaskan bahwa gerakan urunan ini bukan hal baru dalam budaya Bima. “Biasanya, tradisi gotong royong atau karawi rasa ini dilakukan dalam acara adat seperti teka ra ne’e, upacara pernikahan, atau hajatan besar lainnya. Tapi kali ini, tradisi itu dibawa ke dunia politik sebagai bentuk dukungan tulus dari rakyat Bima untuk Ady-Irfan,” tambahnya.

Di berbagai wilayah seperti Sape, Bolo, Woha, hingga Monta, antusiasme rakyat kian terlihat jelas. Tanpa diarahkan, mereka dengan inisiatif sendiri mengadakan pertemuan, membuat baliho, hingga mencetak baju kampanye. Alfaris menegaskan bahwa gerakan ini menunjukkan bahwa keinginan untuk perubahan bukan sekadar harapan kosong, tetapi sebuah panggilan hati yang tulus. “Ini adalah wujud dana ro rasa, atau panggilan hati dari rakyat yang percaya bahwa Ady-Irfan adalah pemimpin yang akan membawa perubahan,” jelasnya.

Tak hanya di Wera, tradisi gotong royong ini merambah hampir ke seluruh wilayah di Kabupaten Bima. Warga di Sape misalnya, mengadakan pertemuan hampir setiap hari, sedangkan di Woha dan Belo masyarakat tumpah ruah ke jalan untuk mengawal kampanye. “Semangat rakyat ini murni dari hati mereka, bukan hasil rekayasa atau desain politik tertentu,” kata Mahasiswa Program Doktor PTIK Jakarta ini. Jumat (15/11/2024)

Alfaris juga menyebutkan bahwa fenomena ini unik dalam sejarah politik Bima. “Jarang sekali budaya karawi rasa masuk ke dunia politik. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat menganggap perubahan ini sebagai hajatan bersama atau teka ra ne’e politik,” ujarnya. Baginya, dukungan rakyat yang luar biasa ini adalah bentuk investasi mereka untuk masa depan Bima yang lebih baik.

“Masyarakat Bima ingin mengakhiri dinasti politik lama dan menyambut pemimpin baru yang lebih dekat dengan rakyat, cerdas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Inilah esensi dari teka ra ne’e politik yang diusung masyarakat untuk kemenangan Ady-Irfan,” tambah Alfaris dengan penuh optimisme.

Dukungan yang kuat ini menurutnya adalah gambaran akan harapan dan mimpi besar rakyat Bima. “Setiap baliho, kaos kampanye, atau alat peraga yang dibuat warga mencerminkan keinginan kolektif untuk memiliki pemimpin yang benar-benar peduli pada rakyatnya,” pungkas Alfaris Thalib, penuh haru.