Sepak Bola dan RTH Desa Menuju Indonesia Masuk Piala Dunia

0
330

Oleh Dr. Ahmad Fathoni, C.EIA

Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram

Kekecewaan publik Indonesia kembali membuncah setelah tim nasional gagal lolos ke Piala Dunia 2026 usai kalah dari Arab Saudi dan Irak di babak kualifikasi. Harapan besar yang sempat tumbuh di tengah dukungan luar biasa masyarakat pupus begitu saja, menandakan masih rapuhnya sistem pembinaan sepak bola nasional. Kekalahan ini bukan semata-mata persoalan taktik, tetapi juga lemahnya pondasi pembinaan usia dini. Ini bukan tentang siapa ketua PSSI tapi apa strategi terencana kita. Momentum ini perlu dijadikan refleksi nasional untuk menata ulang arah sepak bola berbasis desa.

Perdebatan kembali mengemuka antara pilihan menggunakan pemain naturalisasi atau mengembangkan pemain alam asli Indonesia. Pemain naturalisasi memang memberi hasil cepat, tetapi tidak menumbuhkan kemandirian, ikatan emosional yang lemah antar pemain dan miskin karakter nasional. Sebaliknya, pembinaan pemain lokal dari desa ke depan bisa menciptakan regenerasi berkelanjutan dan kebanggaan murni karena lahir dari tanah air. Dengan 75.265 desa dan kelurahan di Indonesia (data Kemendagri 2023), potensi sumber daya manusia untuk melahirkan talenta sepak bola sejatinya sangat besar.

Dalam sepak bola modern, tinggi badan dan kecepatan menjadi faktor utama daya saing internasional. Data FIFA 2022 menunjukkan tinggi rata-rata pemain Eropa adalah 182 cm, sementara pemain Indonesia rata-rata hanya 170 cm. Untuk bersaing di level dunia, target tinggi pemain Indonesia usia dewasa perlu ditingkatkan ke kisaran 178–180 cm. Kecepatan lari pun harus mencapai minimal 30 meter dalam 4 detik agar sesuai dengan standar elite pemain global. Kombinasi kecepatan dan panjang langkah kaki berlari akan menciptakan pemain Indonesia yang berstandar internasional.

Pembinaan harus dimulai dari level dasar, yaitu setiap desa memiliki satu sekolah sepak bola di jenjang SD/MI dengan liga U-7 hingga U-12 di tingkat kecamatan. Dengan 7.500 kecamatan di seluruh Indonesia, sistem ini akan menciptakan liga-IV pada lebih dari 75.000 sekolah sepak bola dasar yang terdistribusi secara merata. Jika setiap sekolah membina 30 siswa, maka akan ada sekitar 75.265 Sekolah Bola Desa x 30 siswa ada 2.257.950 siswa  yang terlibat dalam pembinaan usia dini. Ini merupakan investasi sosial yang luar biasa bagi masa depan sepak bola nasional yang terbuka untuk semua.

Di tingkat SMP/MTs, setiap kecamatan bisa memiliki satu sekolah sepak bola dengan liga-III usia U-13 hingga U-15 di kabupaten. Indonesia memiliki 514 kabupaten/kota, yang masing-masing dapat menjadi pusat kompetisi antar kecamatan. Jika tiap kabupaten menyelenggarakan liga tahunan, maka akan ada 514 liga remaja aktif setiap musimnya. Struktur berjenjang ini menciptakan alur karier jelas bagi pemain muda dan meminimalkan dominasi klub kota besar.

Tahap berikutnya adalah pembinaan di tingkat SMA/MA di setiap kabupaten dengan liga U-16 sampai U-18 di tingkat provinsi. Indonesia terdiri atas 38 provinsi yang dapat menggelar liga-II pada tingkat provinsi sebagai ajang seleksi menuju akademi nasional. Sistem ini memungkinkan pengawasan talenta secara sistematis dari desa hingga provinsi. Setiap provinsi dapat mengirim 22 pemain terbaik untuk diseleksi di pusat pelatihan nasional, menjadikan sistem seleksi lebih terbuka dan meritokratik.

Akademi Sepak Bola Nasional berfungsi sebagai puncak piramida pembinaan, dengan liga nasional U-19 hingga U-21 sebagai jalur profesionalisasi. Dari 836 pemain yang lolos seleksi provinsi, dilakukan pemusatan latihan dan kompetisi nasional yang terukur. Sistem ini bukan hanya mencari juara, tetapi juga menumbuhkan karakter disiplin, tangguh, dan fokus. Dengan sistem asrama atau sekolah full day, para pemain akan terhindar dari distraksi sosial yang kerap menghambat perkembangan.

Program pendukung berupa Makanan Bergizi Gratis (MBG) harus menjadi bagian dari kurikulum sekolah sepak bola. Setiap anak membutuhkan asupan susu kalsium 250 ml/hari dan protein minimal 50 gram/hari untuk mendukung pertumbuhan tinggi dan otot. Jika diasumsikan biaya konsumsi gizi harian Rp20.000 per anak, maka untuk 2,25 juta anak diperlukan sekitar Rp45 miliar per hari atau Rp16,4 triliun per tahun. Angka ini besar, tetapi sebanding dengan investasi masa depan untuk membangun generasi sepak bola nasional yang sehat dan unggul.

Total kebutuhan dana pembinaan sepak bola berjenjang dari desa hingga nasional diperkirakan mencapai Rp25–30 triliun per tahun, termasuk infrastruktur lapangan, pelatih, dan gizi. Angka ini bisa dibiayai secara gotong royong antara APBN, APBD, CSR BUMN, dan partisipasi publik. Pemerintah desa telah mendapat dana desa (DD) rata-rata Rp1 miliar per desa/tahun. APBDes, khusus DD tersebut dapat disisihkan sebesar 5–10% untuk pengembangan RTH dan lapangan sepak bola Desa untuk sekolah sepak bola desa. Dengan demikian, pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi dapat menyatu dengan sistem pembinaan olahraga yang berkelanjutan.

Proses menuju Piala Dunia tidak bisa ditempuh secara instan seperti trik sulap, tetapi melalui seleksi alam yang terkontrol, penuh perencanaan, dan disiplin. Pembinaan dari desa akan melahirkan talenta yang kuat secara fisik, matang secara mental, dan beradab dalam perilaku. Integrasi antara sekolah sepak bola, rumah tahfiz, dan RTH akan menciptakan keseimbangan antara teknik, pengayaan oksigen pada napas, spiritualitas, dan karakter. Jika konsep ini dijalankan konsisten selama 10–15 tahun, maka Indonesia bukan hanya layak bermimpi, tetapi realistis untuk melangkah ke Piala Dunia dengan identitas dan kebanggaan karya sendiri.