0
15

KabarLagi.com—Pemerintah Kabupaten Sumbawa membuka peluang kerja sama investasi hijau dengan perusahaan asal Jepang, IHACHI Co., Ltd., sebagai bagian dari upaya memperkuat arah pembangunan berkelanjutan di daerah. Langkah ini dinilai sejalan dengan implementasi program Sumbawa Hijau Lestari yang tengah digalakkan.

Bupati Sumbawa, H. Syarafuddin Jarot, MP, menerima audiensi perwakilan IHACHI bersama representatif Koperasi Konsumen Mutiara Amanah Syariah (KOPMAS) yang berafiliasi dengan Bank NTB Syariah di Kantor Bupati Sumbawa, Selasa (23/6).

Dalam pertemuan tersebut, pihak IHACHI memaparkan rencana investasi berbasis ekonomi karbon yang mencakup rehabilitasi ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove, penghijauan lahan kritis dengan tanaman energi seperti kaliandra, pengembangan industri wood pellet, serta penerapan teknologi desalinasi untuk pengolahan air laut.

Perusahaan tersebut juga menegaskan komitmennya dalam membangun kemitraan jangka panjang dengan dukungan jejaring internasional, termasuk Kedutaan Besar Jepang dan Japan International Cooperation Agency (JICA), guna memastikan keberlanjutan program sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.

Menanggapi hal itu, Bupati Syarafuddin Jarot menyatakan bahwa rencana investasi tersebut memiliki kesesuaian dengan prioritas pembangunan daerah, khususnya dalam aspek pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi berbasis sumber daya alam.

“Penghijauan lahan kritis menjadi fokus utama kami. Selain menjaga keseimbangan lingkungan, kami juga mendorong penanaman komoditas bernilai ekonomi seperti sengon, kemiri, kopi, alpukat, nangka, dan manggis,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa, lanjutnya, telah menyiapkan sekitar satu juta bibit pohon untuk mendukung gerakan penghijauan. Selain itu, wilayah ini juga memiliki potensi ekosistem mangrove seluas kurang lebih 8.000 hektare yang terus dijaga dan dikembangkan.

Terkait rencana penanaman kaliandra, pemerintah daerah menilai tanaman tersebut memiliki nilai tambah sebagai sumber pakan ternak. Namun demikian, alternatif tanaman lokal seperti gamal dan bidara juga dipertimbangkan karena telah dikenal luas oleh masyarakat.

Dengan cakupan kawasan hutan yang mencapai sekitar 43 persen dari total wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Sumbawa dinilai memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi karbon.

Pemerintah daerah berharap penjajakan kerja sama ini dapat segera ditindaklanjuti ke tahap implementasi, sehingga tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.(TM)