KabarLagi.com—Ada perpisahan yang datang tanpa benar-benar ingin dirayakan. Bukan karena tak bahagia, tetapi karena ada rasa kehilangan ketika orang-orang yang selama 40 hari menjadi bagian dari keseharian, akhirnya harus kembali melanjutkan perjalanan.
Suasana haru itu terasa di Desa Oi Saro, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, saat mahasiswa KKN UMMAT Angkatan 40 Kelompok 7 menutup rangkaian pengabdian mereka.
Bagi masyarakat Desa Oi Saro, terutama Sekretaris Desa Oi Saro, kehadiran para mahasiswa selama 40 hari bukan sekadar sebuah program kampus. Waktu yang relatif singkat itu perlahan menjelma menjadi kedekatan. Mereka datang sebagai mahasiswa, tetapi pulang meninggalkan kesan seperti keluarga yang harus dilepas kembali.
“Hari ini bukan sekadar tentang perpisahan,” begitu ungkapan yang menggambarkan perasaan Sekdes Oi Saro. Sebab, di balik berakhirnya masa KKN, tersimpan begitu banyak cerita, kerja bersama, tawa, pembelajaran, hingga kenangan sederhana yang mungkin justru paling sulit dilupakan.
Selama berada di desa, mahasiswa KKN tidak hanya menjalankan berbagai program kerja. Mereka ikut berbaur dengan masyarakat, belajar memahami kehidupan desa, membantu dalam berbagai kegiatan, serta menghadirkan warna baru di tengah keseharian warga.
Setiap kegiatan yang dilakukan meninggalkan jejak tersendiri. Begitu pula senyum, canda, dan kebersamaan yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Kalian datang sebagai mahasiswa KKN, tetapi selama berada di sini, kalian telah menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat Desa Oi Saro,” menjadi pesan yang terasa begitu dalam.
Kini, setelah 40 hari berlalu, rumah-rumah yang sebelumnya ramai oleh aktivitas mahasiswa KKN akan kembali seperti biasa. Tidak ada lagi pertemuan setiap hari. Tidak ada lagi kegiatan bersama, canda sederhana, atau cerita-cerita kecil yang muncul dari kebersamaan.
Namun, bagi Sekdes Oi Saro, kepergian itu bukan berarti semuanya selesai.
Desa Oi Saro akan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Tempat di mana mereka pernah belajar bahwa pengabdian bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi juga tentang mendengar, membantu, berbagi, dan hidup bersama masyarakat.
“Jangan anggap perpisahan ini sebagai akhir. Desa Oi Saro akan selalu menjadi tempat di mana kalian pernah belajar tentang kehidupan, kebersamaan, pengabdian dan arti sebuah keluarga.”
Pesan itu sekaligus menjadi doa.
Mahasiswa KKN UMMAT Angkatan 40 Kelompok 7 kini harus kembali mengejar cita-cita. Mereka membawa pulang pengalaman dari desa, sementara masyarakat Oi Saro menyimpan kenangan tentang anak-anak muda yang selama 40 hari pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Ada harapan agar ilmu yang diperoleh selama berada di Oi Saro menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh. Dan ada satu permintaan sederhana: jangan lupakan desa kecil tempat mereka pernah mengabdi.
“Terima kasih atas segala pengabdian dan kebersamaan kalian. Mohon maaf apabila selama berada di Desa Oi Saro ada kekurangan dari kami.”
Perpisahan itu akhirnya menjadi sebuah pesan panjang yang sesungguhnya sederhana: pergilah membawa kenangan, kejarlah kesuksesan, dan jika suatu hari nanti perjalanan membawa kalian kembali, Desa Oi Saro akan tetap menjadi rumah bagi sebuah kenangan.
“Kalian mungkin pergi meninggalkan Desa Oi Saro, tetapi cerita dan kenangan tentang kalian akan tetap tinggal di hati kami.”
Empat puluh hari memang telah selesai. Tetapi bagi masyarakat Oi Saro, cerita tentang mereka belum benar-benar berakhir.
Sebab, beberapa orang memang hanya tinggal sementara dalam sebuah tempat. Namun kebaikan yang mereka tinggalkan, sering kali menetap jauh lebih lama.
