Di Balik Gubuk Bambu, Cinta Menjaga Mimpi Tetap Menyala

0
18

KabarLagi.com— Namanya Marselina Lovelia Kurniati Rindu. Orang-orang di Kampung Compang, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, lebih akrab memanggilnya Cinta.

Usianya baru 11 tahun. Namun, kehidupan telah mengajarinya tentang kehilangan jauh lebih cepat daripada anak-anak seusianya.

Cinta kehilangan ibunya ketika usianya baru sekitar satu tahun. Sang ayah kemudian pergi meninggalkannya. Sejak itu, pelukan seorang kakek dan nenek menjadi tempatnya bertumbuh, sekaligus satu-satunya rumah bagi seorang anak yang kehilangan kedua orang tuanya.

Tahun 2024 menjadi kehilangan berikutnya. Sang kakek berpulang.

Kini, Cinta hanya tinggal bersama neneknya, Katarina Labe, seorang perempuan lanjut usia yang menjadi satu-satunya keluarga yang masih menemaninya menjalani hari-hari.

Mereka hidup dalam sebuah rumah sederhana. Dindingnya terbuat dari bambu pelupuh. Lantainya masih berupa tanah. Atap seng menjadi pelindung dari panas, tetapi tak selalu mampu menahan hujan yang turun.

Ketika hujan datang, rumah kecil itu tak sepenuhnya menjadi tempat berlindung.

Namun, dari rumah sesederhana itulah sebuah mimpi besar tumbuh.

Cinta tetap pergi ke sekolah.

Setiap hari, ia berjalan kaki menuju SMP Negeri 1 Elar. Tidak ada kendaraan yang mengantarnya. Tidak ada fasilitas belajar yang mewah. Tidak pula kehidupan berkecukupan yang bisa membuat langkahnya lebih ringan.

Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah hilang: keinginannya untuk belajar.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Cinta selalu menjadi juara pertama di kelasnya. Prestasi itu terus ia pertahankan hingga kini, saat duduk di kelas I SMP.

Di tengah rumah yang mungkin tak mampu menyediakan banyak hal, buku dan sekolah justru menjadi jendela bagi Cinta untuk melihat masa depan.

Ia mungkin tidak memiliki kamar belajar yang nyaman.

Ia mungkin harus menempuh jalan dengan berjalan kaki setiap hari.

Ia mungkin pulang ke rumah yang dindingnya bambu dan lantainya tanah.

Tetapi Cinta tidak pernah membiarkan keadaan menentukan seberapa tinggi ia boleh bermimpi.

Kisah hidupnya kemudian menjadi perhatian publik setelah cerita tentang perjuangannya menyebar luas. Kesederhanaan hidup yang dijalani seorang anak berprestasi itu mengetuk perhatian pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Winsensius Tala, menyatakan komitmen untuk menanggung seluruh biaya pendidikan Cinta.

Bagi Cinta, mungkin bantuan itu bukan sekadar soal biaya sekolah.

Lebih dari itu, ada pesan bahwa perjuangannya tidak lagi berjalan sendirian.

Di usia ketika sebagian anak masih sibuk bermain dan bermanja bersama orang tua, Cinta justru tumbuh dengan kehilangan yang bertubi-tubi. Namun, ia memilih jalan yang berbeda: tetap belajar, tetap berprestasi dan tetap melangkah.

Di sebuah gubuk kecil di Kampung Compang, seorang anak yatim piatu sedang menjaga mimpinya.

Namanya Cinta.

Dan mungkin, dari rumah bambu yang sederhana itu, sebuah masa depan sedang perlahan dibangun—dengan langkah kaki kecil menuju sekolah, dengan buku-buku yang dipeluk erat, dan dengan keyakinan bahwa keterbatasan hari ini tidak harus menjadi batas bagi masa depannya.

Cinta telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya.

Tetapi satu hal yang belum pernah ia kehilangan adalah harapan.