Lautan Manusia Padati Penutupan FSA 2026, Bukti Kekompakan Masyarakat Jaga Tradisi

0
56

KabarLagi.Com— Lautan manusia memadati kawasan pesisir Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, saat penutupan Festival Sangiang Api (FSA) 2026, Selasa (8/9/2026).

Ribuan masyarakat tidak hanya datang dari Desa Sangiang, tetapi juga dari sejumlah wilayah di Kabupaten Bima dan sekitarnya. Mereka antusias menyaksikan rangkaian acara penutup festival yang mengangkat kekayaan bahari, tradisi, seni, dan kehidupan masyarakat pesisir Sangiang.

Salah satu atraksi yang paling menyita perhatian adalah lomba sampan. Perlombaan berlangsung meriah dengan sorak-sorai masyarakat yang memadati kawasan pesisir. Dalam perlombaan tersebut, tim 9 Naga berhasil keluar sebagai pemenang dan menjadi salah satu catatan menarik dalam penyelenggaraan FSA 2026.

Penutupan FSA 2026 sekaligus menjadi momentum penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk mendorong Festival Sangiang Api agar tidak berhenti sebagai agenda tahunan masyarakat lokal, tetapi berkembang menjadi salah satu festival unggulan daerah.

Sebelumnya, Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyampaikan dukungan agar Festival Sangiang Api didaftarkan dalam Kharisma Event Nusantara (KEN). Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi FSA untuk dikenal secara nasional dan menarik kunjungan wisatawan ke Pulau Sangiang.

Festival Sangiang Api dinilai memiliki kekuatan tersendiri karena memadukan potensi bahari, tradisi masyarakat pesisir, permainan dan perlombaan sampan, seni budaya, UMKM, kuliner, serta kehidupan masyarakat Pulau Sangiang yang memiliki sejarah panjang sebagai kawasan maritim.

Membludaknya masyarakat pada penutupan menjadi gambaran besarnya antusiasme warga terhadap festival tersebut. Ke depan, penyelenggara bersama pemerintah daerah diharapkan dapat terus melakukan pembenahan, baik dari sisi konsep, pengelolaan, promosi, maupun kalender kegiatan, sehingga FSA semakin layak menjadi event pariwisata yang diperhitungkan di tingkat NTB hingga nasional.

FSA 2026 pun ditutup dengan semangat untuk menjadikan Pulau Sangiang bukan hanya sebagai destinasi wisata bahari, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi tradisi, sejarah, ekonomi masyarakat, dan warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.