75 Thun HMI: Apa yang Anda Cari di HMI ?

0
717

Oleh: Eko Saputra

HMI merupakan organisasi perkaderan dan perjuangan pada ruang lingkuup kemahasiswaan. Sebagai organiisasi kemahasiswaan, HMI memmpunyai tujuan mendasar sebagai kiprah kader menemukan kejatidiriaannya.  Dalam hal ini, tentu tiap kader didasarkan sesuai petunjuk untuk berhijrah sebagai jati dirinya dan mempertahankan harga diri masyarakat sebagai amanat yang di embanya oleh insan yang berhimpun.

Demikian, kader HMI bukan hanya sebagai personal/sistem simbolik atas nama atribut, namun kader  HMI adalah kader yang senantiasa membangkitkan budi pekerti dalam tatanan sosial masyarakat. Oleh karena itu, kader HMI memiliki peran yang signifikan untuk menerapakan Akal Budi di dunia ini.

Budi adalah bagian dari ilmu begitupun sebaliknya. Sehingga seorang kader HMI  justru sangat penting dalam mepelajari ilmu untuk memperdalam dan mengembangkan pengetahuan serta membangkitkan budi sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam khitah perjuangan. Dari budi pekerti, tentu kader HMI harus memahami secara esensial nilai-nilai yang dijelaskan dalam khitah perjuangan sebagai landasan atau arah dalam mewujudkan tujuan dari HMI.

Dewasa ini, kader HMI hanya mengedepankan prinsip legalitas. Artinya, yang dicari di HMI adalah strata sosial yang di tempuh melalui jenjang formal adalah syarat yang paling utama. Sesungguhnya kader HMI adalah suri tauladan yang mengedepankan budi yang bermanfaat dan ilmu yang berguna. Khitah perjuangan memberikan makna bahawa menjadi kader HMI bukan sebagai formalitas, namun kader yang mesti menjadi insan yang menjunjung tinggi nilai cita dan guna, sehingga tujuan uatama kader yang berhimpun adalah menjadi manusia yang bermanfaat. Oleh karena itu, sebagai kader HMI muncul dari eksistensi nilai dan niat individu untuk proses menjadi baik dan bermanfaat, bukan tampil sebagai individu yang membutuhkan legalitas sebagai hakikatnya.

Memang pada dasarnya, visi tiap insan yang berhimpun adalah bersifat beragam, tapi secara umum ditujukan dengan kata “baik”. Kata ini menjadi satu titik yang di tempuh oleh semua insan yang berhimpun, mulai dari perkaderan dan perjuangan adalah standar berhimpun, tujunya adalah “baik”. Tapi acap kali insan-insan berhimpun merasa ambigu  dengan pertanyaan apa yang dicari lebih dari tujuan berhimpun?

Pada hal yang paling mendasar, semua manusia di utus oleh Tuhan itu untuk membangkitkan makarim al akhlak (budi pekerti yang mulia). Penerapan itu tentu di perintahkan melalui ajaran yang diwahyukan. Jadi hadirnya kader HMI  adalah  untuk membangun budi pkerti luhur. Manusia hadir di muka bumi ini bukan untuk membelenggu jiwa dan raga sesama manusia, tapi hadirnya manusia untuk menjadi insan yang mempunyai sifat saling menolong dan membantu sesama hamba, hal inilah justru kader HMI dapat mananmkan satu frasa bahwa manusia adalah perantara dari Tuhan untuk saling mengasihi. Dengan pengetahuan ini agar cara kolektiv kita untuk dapat menegakkan perilaku yang baik di dunia ini.

Dunia sifatnya adalah fana (sementara). Dari sifat yang sementara itu, kader HMI mesti macari cara untuk mengabadikan suasuatu yang sifatnya sementara (abadi). Pencarian abadi dari yang sementara ini lah, setiap kader yang berhimpun selalu berhusaha hijrah menjadi manusia yang bermanfaat. Sudah tentu kita menanamkan asas kemanfaatan tentu kita telah menamkan suatu fondasi kebaikan. Kabikan inilah tujuan daripada semua umat manusia diciptakan.

HMI mendidik tiap kader menjadi insan Ulil Albab. Berpikir benar dan bertindak baik, perolehannya adalah menjadi yang bermanfaat bagi umat dan bangsa. Tentu ini menjadi suatu nilai yang harus benar-benar ditanamkan pada jati diri kader HMI, agar dapat menjadi mutiara-mutiara yang berkilauan dalam kegelapan.

Selamat Milad HMI yang Ke-75, Yakusa.