Jejak sejarah Syeikh Syamsudin As-Sumatrani di Tanah Sangiang Pulau dan Perbedaan Versi Tempat Pemakaman

0
1260
Foto Sangian dari ketinggiang, sumber pesona indonesia kemenpar

KabarLagi.Com— Syeikh Syamsudin As-Sumatrani adalah ulama besar yang termasuk memiliki andil dalam mengislamkan masyarakat Pulau Sangiang. Jika ditelusuri dari catatan sejarah, tidak ada yang tau pasti kapan Syeikh Syamsudin As-Sumatrani masuk ke pulau sangiang dan mengislamkan orang-orang sekitar. Namun keberadaan makam menjadi bukti kuat bahwa beliu hidup dan meninggal ditanah sangiang.

Berdasarkan penuturan langsung dari salah satu tokoh agama Desa Sangiang, Haji Hamkah. Ia menjelaskan bahwa Syeh samsudin As-sumatrani adalah murid langsung dari ulama yang bernama Hamzah al-Fansuri dan makamnya dikenal dengan nama Rade Suri yang berada di pulau sangiang.

“ Jadi berdasarkan penuturan dari beberapa tokoh –tokoh jaman itu. Hamzah Al-Fansuri adalah guru dari syeikh syamsudin. Gurunya yang pertama datang dan menyebarkan agama kemudian meninggal di tanah sangiang, dan kita kenal dengan rade suri nama kuburannya. Nah syeih syamsudin ini datang belakangan, dan hendak mencari jejak sang guru. Dan beliau juga penyebar serta menguatkan ke islaman tanah sangiang,” ujarnya.

Hamkah juga menjelaskan bahwa makam hamzah al-fansuri (rade suri) sangat gampang untuk ditemukan. Kondisi makam berdekatan dengan kampung lama orang sangiang sebelum pindah ke sangiang darat akibat letusan gunung.

“ jadi sangat dekat dan mudah dijangkau, yang menariknya. Makam itu sangat terawat, padahal tidak ada orang yang membersihkan atau yang berjiarah. Pernah dulu ada orang yang mencoba menggalinya, dan orang itu langsung sakit,” ujarnya.

Sedangkan makam syeih samsudin sangat jauh dari kampung yaitu berada di atas gunung. Bahkan jika ingin berjiarah harus melewati jalan mendaki lebih kurang 6 sampai 7 jam.

“ Saya belum pernah melihat,tapi cerita orang-orang yang berburu dan melihat makam tersebut. Makamnya sangat terawat kaye ada yang bersihin, padahal jauh dari perkampungan dan sulit kalau orang berjiarah,” tuturnya.

Ia juga menambahkan sebenarnya orang Palue yang mendiami pegunungan Roka Tende sekitar Maumere NTT adalah asli dari penduduk sangiang. Mereka hijrah ke daearah tersebut karena kesalah pahaman dalam ajaran islam.

“ Jadi dulu mereka salah paham, jadi masuk islam itukan harus sunat. Nah mereka dapat informasi bahwa kalau masuk islam alat ke kelaki-lakianya akan dipotong semua. Karena takut, mereka hijrah ke Gunung Roka Tende sampai saat ini,” beber hamka.

Dikutip dari laman wilkpedia, Syeikh Syamsuddin Ibn Abdullah As-Sumatrani adalah seorang ulama besar Aceh yang hidup pada Abad ke-16 dan ke-17 Masehi. Beliau merupakan murid dari seorang Ulama yang dikenal dengan nama Hamzah al-Fansuri. Beliau menguasai bahasa Melayu-Jawi, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Meskipun secara pasti tidak diketahui kelahiran beliau namun dari namanya menunjukkan bahwa beliau merupakan Ulama yang berasal dari Pasai (Aceh).

Perbedaan Versi Dimana di kuburkan

Dalam catatan yang di ramu dari berbagai sumber, Syeih Syamsudin meninggal dunia dalam pertempuran dengan portugis di Melaka pada pada tahun 1040 H/ 1630 M dan dikebumikan di Kampung Ketek, malaka, Dalam kitab bustanul salatin karya Syeiikh Nurrudin ar-Raniri juga diperoleh keterangan bahwa Syamsuddin wafat pada hari ke-12 bulan Rajab tahun 1039 H/1630 M.

Dalam catatan orang Eropa yang berjumpa Syeikh Syamsuddin bin Abdullah As Sumatrani seperti yang ditulis oleh Frederick de Houtman dalam bukunya Cort Verhael van’t Wedervaren is Frederick de Houtman, Tot Atchein (1603) menyatakan, Syeikh Shamsuddin bi Abdullah As Sumatrany sebagai penasihat agung Sultan Saidil Mukammil. Syeikh ini sempat mengajak dia masuk Islam.

Sedangkan di Pulau Sangian NTB orang sekitar meyakini bahwa Syeh Syamsudin As-Sumatrani di Makamkan di pulau sangiang begitupun dengan gurunya Hamzah Al-fanzuri.