Kolaborasi Guru dan Orang Tua Bangun 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

0
804

Oleh Alimuddin, Guru SD Inpres Rasa Bou  Sape, Bima

KabarLagi.Com — Kolaborasi antara guru dan orang tua untuk membangun 7 kebiasaan anak indonesia hebat, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia hebat.

Peluncuran 7 Kebiasaan Anak Indonesia hebat bertujuan untuk menanamkan kebiasaan baik yang dapat membentuk karakter anak-anak Indonesia supaya menjadi generasi sehat, cerdas, dan berkarakter unggul.

Selain itu, alasan lain adanya gerakan tersebut sebagai upaya menciptakan generasi emas Indonesia menuju tahun 2025. Gerakan ini berfokus pada tujuh kebiasaan yang ditanamkan sejak dini seperti bangun pagi, ibadah, olahraga, makan makanan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat hingga tidur cepat.

Apabila tujuh kebiasaan ini sudah tertanam dalam diri anak-anak, tentunya mereka nanti akan menjadi generasi yang membanggakan dan membawa Indonesia menjadi negara yang maju serta menuju indonesia emas.

Namun, ini semua tidak akan berjalan dengan baik apabila gerakan ini hanya dibebankan kepada guru dan sekolah saja. Sebab guru dan sekolah hanya memiliki waktu 6 jam untuk mendidik dan mengajarkan peserta didiknya. Dengan waktu yang singkat ini rasanya tidak cukup untuk mengajarkan tujuh kebiasaan tersebut.

Maka dari itu, perlunya kolaborasi antara guru dan orang tua untuk membangun tujuh kebiasaan itu agar tercapai hasil yang maksimal. Dalam hal ini, pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara sekolah serta keluarga.

sekolah berperan untuk mendidik dan mengajarkan anak-anak didiknya agar bisa menulis, membaca dan berhitung sedangkan Orang tua berperan penting untuk mendukung perkembangan serta keberhasilan pendidikan anak dengan cara mengajarkan ilmu agama.

Karena memang orang tua merupakan pendidik pertama yang banyak memiliki waktu untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang cerdas, berkarakter, serta berakhlak mulia.

Orang tua berperan dalam mengajarkan anak tentang pentingnya pendidikan, kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab, memenuhi kebutuhan anak secara fisik, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, mengajarkan nilai-nilai positif dan etika yang kuat kepada anak, melindungi anak dari tindakan yang merugikan, seperti kekerasan, eksploitasi, dan penelantaran, mengawasi kelompok pergaulan anak dan kegiatan yang dilakukannya, memberikan motivasi kepada anak agar dapat mencapai apa yang diharapkan.

Peran guru dan orang tua dalam pendidikan anak saling melengkapi untuk membimbing, mendukung, dan memaksimalkan potensi anak. Kolaborasi antara guru dan orang tua dapat memberikan dukungan yang optimal bagi perkembangan anak.

Aristoteles menyampaikan bahwa pendidikan bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, moralitas, dan kebijaksanaan. Pendidikan yang benar tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas, tetapi juga manusia yang baik, sehingga dapat menciptakan masyarakat yang harmonis dan berkeadilan.

Aristoteles menekankan bahwa pendidikan adalah investasi terbesar sebuah masyarakat. Ketika masyarakat berkomitmen pada pendidikan, mereka tidak hanya menciptakan generasi yang cerdas, tetapi juga membangun peradaban yang penuh harapan, keberanian, dan keadilan. Tanpa pendidikan, masyarakat akan berjalan dalam kegelapan; dengan pendidikan, mereka akan melangkah menuju cahaya kemajuan.