KabarLagi.Com — Isra’ Mi’raj bukanlah sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah perjalanan suci yang menjadi titik balik kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. Peristiwa ini merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam kehidupan Nabi, yang mengajarkan banyak hikmah kepada umat Islam.
Dalam pandangan John Renerd, sebagaimana dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience, Isra’ Mi’raj merupakan satu dari tiga perjalanan terpenting dalam hidup Rasulullah SAW, selain hijrah ke Madinah dan Haji Wada. Isra’ Mi’raj disebut sebagai perjalanan heroik menuju kesempurnaan spiritual, di mana seorang hamba bertemu dengan Sang Pencipta.
Jika hijrah menandai awal sejarah umat Islam dan Haji Wada menunjukkan puncak dakwah Rasulullah di dunia, maka Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan menuju kesempurnaan ruhani. Para sufi memandang peristiwa ini sebagai gambaran perjalanan meninggalkan dunia yang fana menuju langit yang penuh kemuliaan.
Menurut Dr. Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dalam Isra’ Mi’raj adalah pertemuan Rasulullah SAW dengan Allah SWT. Dalam pertemuan itu, Rasulullah mengucapkan penghormatan dengan berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”, yang dijawab oleh Allah dengan firman-Nya, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”.
Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Muhammad Kekasih Allah (1993) menjelaskan bahwa pengalaman ruhani Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual salat dalam Islam. Salat merupakan bentuk mi’raj bagi orang-orang beriman, di mana seorang hamba berkomunikasi langsung dengan Allah SWT.
Peristiwa Isra’ Mi’raj sendiri terbagi menjadi dua bagian. Pertama, Isra, yakni perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kedua, Mi’raj, yaitu perjalanan Rasulullah menuju langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan inilah beliau menerima perintah salat lima waktu yang menjadi kewajiban utama bagi setiap Muslim.
Isra’ Mi’raj juga memiliki makna mendalam dalam konteks kepemimpinan. Perjalanan ini menunjukkan pentingnya integritas moral, belajar dari sejarah, serta keadilan dalam menjalankan kepemimpinan. Rasulullah kembali ke dunia setelah pertemuan dengan Allah bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi menyelamatkan umat manusia. Ini menjadi simbol bahwa seorang pemimpin harus selalu berpihak kepada kepentingan rakyatnya.
Pesan utama dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah pentingnya menjaga hubungan dengan Allah melalui salat serta membangun kepemimpinan yang adil dan amanah. Seperti yang diajarkan Rasulullah, seorang pemimpin harus memiliki sikap istiqamah, amanah, dan selalu mengutamakan kemaslahatan umat. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam bahwa kebijakan seorang pemimpin harus berlandaskan pada kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya.
tulisan Ihsan Faisal (Penulis adalah Analis Kebijakan Ahli Muda pada Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI) yang dikutip dari website Kemenag.go.id
