Desa Sari Rayakan Hari Jadi ke-406: Menapak Jejak Sejarah, Menyongsong Masa Depan Bima

0
1021
Pemandangan Indah Desa Sari,Sape

KabarLagi.Com--Dengan penuh rasa syukur dan kebanggaan, masyarakat Desa Sari memperingati Hari Jadi ke-406. Sebuah momen bersejarah yang tidak hanya menjadi penanda usia desa, tetapi juga penghormatan atas warisan leluhur dan perjalanan panjang spiritual serta budaya yang membentuk jati diri desa ini.

Asal-usul dan Peristiwa Penting dalam Sejarah Desa Sari
Menurut tuturan lisan para leluhur yang masih terjaga dengan baik, awal mula pemukiman penduduk Desa Sari berada di wilayah yang disebut Dana Ntua, kini dikenal sebagai So Hidi Rasa. Pada abad ke-15 Masehi, daerah ini dikuasai oleh keturunan Ncuhi Mali dan Ncuhi Gili Mana, dua tokoh adat yang mengatur kehidupan masyarakat saat itu.

Sekitar tahun 1608 M, muncul dua pemimpin bersaudara bernama La Gawe dan La Guwi. La Gawe menetap di Hidi Rasa, sementara La Guwi tinggal di Desa Soro. Suatu ketika, La Guwi datang membawa kabar mengkhawatirkan: telah mendarat sekelompok orang asing menggunakan rakit bambu di perairan Selat Sape. Isu yang berkembang menyebutkan bahwa rombongan tersebut membawa ancaman besar dan akan memenggal siapa pun yang ditemui.

Namun setelah diselidiki, ternyata mereka adalah dua orang mubaligh dari Minangkabau bernama Syekh Datuk Dibanta dan Syekh Datuk Ditiro. Keduanya telah lama berdakwah di Kerajaan Goa, Sulawesi Selatan, dan diutus untuk membantu menyelesaikan konflik internal di Kerajaan Bima serta menyebarkan agama Islam ke bagian timur Nusantara.

Pertemuan ini menjadi titik balik besar. La Gawe dan La Guwi memeluk Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat, disertai prosesi pensucian tubuh termasuk khitan. Saat itulah, secara ajaib muncul semburan air tawar di pesisir Pantai Soro yang kini dikenal dengan nama Oi Wontu.

Dari sana, para mubaligh melanjutkan perjalanan menuju pusat Kerajaan Mbojo, melewati pemukiman dan desa-desa seperti Lanta, Simpasai, Kaleo, dan Jia. Putra Mahkota La Ka’i yang saat itu berada dalam pengasingan di Kalodu segera turun bersama para hulubalang untuk menjemput mereka.

Pertemuan agung terjadi di Danantua (Waro), pinggir Sori Saja. Di sanalah La Ka’i, sang Sangaji Mbojo, mengikrarkan diri masuk Islam. Dua kalimat syahadat ditiupkan oleh Syekh Datuk Dibanta dan Syekh Datuk Ditiro dari ubun-ubunnya sampai ke rongga dadanya, diiringi penyerahan kitab suci sebagai pedoman hukum Islam. Para mubaligh juga menyampaikan amanah:

“Bahwa engkau harus menjalankan hukum syari’ah Islam dengan berpedoman pada kitab yang diterima ini.”

Sebagai wujud penghormatan terhadap peristiwa tersebut, Sangaji Mbojo La Ka’i menetapkan lokasi Danantua sebagai Kampung Syari’ah, yang kemudian dikenal sebagai Kampung Sari, dan berkembang menjadi Desa Sari.

Namun, saat kedua rombongan meninggalkan lokasi pada keesokan harinya, kitab suci yang diberikan oleh para mubaligh ternyata tertinggal di atas batu. Ketika hendak diambil kembali oleh utusan kerajaan, kitab itu sudah tidak ditemukan. Hanya batu itu yang berubah, dengan permukaan yang bermotif seperti tulisan Arab. Batu tersebut kemudian dikenal dengan nama Wadu Sura, dan diyakini kitab tersebut telah menyatu dengan alam.

Dari sinilah muncul makna simbolis yang mendalam: kitab yang menyatu dengan batu sebagai lambang jasad dan syariat (bumi), dan kalimat laa ilaha illallah yang tertancap di dada Sangaji La Ka’i sebagai lambang ruh dan iman. Dari bumi inilah diyakini muncul semangat kalimat luhur “Dou Labo Dana”—jiwa masyarakat Bima yang bersumber dari Desa Sari.

Atas dasar sejarah dan peristiwa agung tersebut, maka 13 Juli 1619 ditetapkan sebagai Hari Jadi Desa Sari, yang tahun ini genap berusia 406 tahun. Tema Mengembangkan potensi desa, mengusung perubahan dalam bingkai kebersamaan dan gotong-royong.

Momentum Kebersamaan dan Harapan untuk Masa Depan
Peringatan Hari Jadi Desa Sari ke-406 tahun ini menjadi ajang refleksi dan penguat kebersamaan seluruh warga. Di tengah modernisasi dan tantangan zaman, Desa Sari tetap menjaga warisan nilai religius, budaya, dan semangat gotong royong.

Mari kita jadikan momentum Hari Jadi ini sebagai ajang mempererat silaturahmi, memperkuat persatuan, dan menumbuhkan semangat gotong royong untuk membangun Desa Sari yang lebih baik dan maju.

“Bersatu, Berkarya, untuk Desa Sari Jaya!”

Selamat Hari Jadi ke-406 untuk Desa Sari tercinta. Semoga Desa Sari senantiasa menjadi tempat yang aman, sejahtera, harmonis, serta terus tumbuh sebagai desa yang kuat dalam iman dan unggul dalam peradaban.