KabarLagi.Com–Universitas Muhammadiyah Mataram melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melaksanakan kegiatan pendampingan pengelolaan sampah organik bagi siswa SMP Muhammadiyah Mataram. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang dibiayai melalui dana APBU UMMAT.
Kegiatan pendampingan ini bertujuan membangun kesadaran lingkungan sejak dini di kalangan generasi muda, khususnya generasi Z, yang dinilai masih memiliki tingkat literasi lingkungan yang rendah. Melalui kegiatan tersebut, para siswa diberikan edukasi dan pelatihan mengenai cara memilih, memilah, serta mengolah sampah organik agar dapat dimanfaatkan secara lebih bernilai dan ramah lingkungan.
Narasumber kegiatan, Dr. Safril, menjelaskan bahwa intervensi perguruan tinggi sangat penting dalam membantu membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat, terutama pada usia sekolah.
“Pendampingan kepada siswa sangat penting dilakukan karena indeks literasi lingkungan generasi muda masih perlu diperkuat. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk hadir memberikan edukasi dan membangun kesadaran lingkungan sejak dini,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar sampah yang dihasilkan masyarakat berasal dari sampah organik rumah tangga. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah tersebut dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran hingga gangguan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, melalui pendampingan kepada siswa, diharapkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah dapat diteruskan kepada orang tua dan lingkungan keluarga. Dengan demikian, pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari rumah tangga sehingga sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan.
“Melalui siswa, pesan-pesan tentang pentingnya pengelolaan sampah organik diharapkan sampai ke keluarga mereka. Jika sampah organik dapat diolah dengan baik, maka dampak negatif terhadap lingkungan dapat dikurangi dan masa depan bumi dapat lebih terjaga,” tambahnya.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang ramah lingkungan, khususnya di wilayah perkotaan yang menghadapi persoalan sampah semakin kompleks. Kesadaran dasar mengenai lingkungan dinilai perlu ditanamkan sejak dini agar menjadi karakter dan kebiasaan positif di masa depan.
Dr. Safril menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari dunia pendidikan, pemerintah, masyarakat, hingga komunitas lingkungan agar penanganan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Masalah sampah di perkotaan sering menjadi persoalan serius. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor. Tanpa kerja sama semua pihak, sampah akan terus menjadi problem yang berkelanjutan,” tutupnya.
