Pawai Rimpu 2026: Simbol Identitas dan Upaya Pelestarian Budaya dalam Hari Jadi Bima ke-386

0
17

KabarLagi.com—Pemerintah Kabupaten Bima kembali menggelar Pawai Budaya Rimpu Pesona Dana Mbojo sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Bima ke-386. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga merepresentasikan upaya pelestarian identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Mengusung tema “Bima Bermartabat Dalam Harmoni Budaya,” pawai yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026 pukul 10.00 WITA ini akan mengambil titik start di Lapangan Talabiu, Kecamatan Woha, dan berakhir di halaman Kantor Bupati Bima di Godo. Ribuan peserta diperkirakan ambil bagian dengan mengenakan rimpu dan berbagai busana adat khas Bima.

Rimpu sendiri merupakan simbol kultural masyarakat Bima yang memiliki nilai historis dan filosofis mendalam. Busana tradisional yang identik dengan penggunaan sarung tenun ini mencerminkan norma kesopanan, identitas perempuan Bima, serta nilai religius yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pawai ini menjadi ruang ekspresi kolektif masyarakat Dou Mbojo dalam menjaga eksistensi budaya lokal. Selain itu, kegiatan ini juga berperan sebagai media edukasi bagi generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya di tengah pengaruh globalisasi.

Rute yang dilalui peserta, mulai dari Lapangan Talabiu hingga Jalan Soekarno Hatta yang merupakan jalur utama lintas Bima–Sumbawa, diperkirakan akan dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan langsung kemeriahan acara. Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat untuk turut serta menyemarakkan kegiatan ini dengan tetap menjaga ketertiban dan keamanan.

Lebih dari sekadar pawai, Rimpu Pesona Dana Mbojo juga memiliki potensi sebagai daya tarik wisata budaya. Kehadiran ribuan peserta dengan ragam busana tradisional diyakini mampu menarik perhatian wisatawan lokal maupun luar daerah, sekaligus memperkuat citra Bima sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya.

Momentum Hari Jadi Bima ke-386 ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat untuk tidak hanya merayakan usia daerah, tetapi juga mempertegas komitmen dalam merawat harmoni budaya. Dengan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, pawai rimpu diharapkan menjadi simbol persatuan sekaligus kebanggaan kolektif masyarakat Bima.

Ajakan untuk menyaksikan dan meramaikan pawai ini pun menjadi bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Dalam semangat kebersamaan, peringatan ini diharapkan mampu memperkuat identitas daerah sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Bima di tingkat lokal maupun nasional.(TM)