KabarLagi.com—Pagi di Desa Darussalam, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, selalu dimulai lebih awal di sebuah kedai sederhana milik Sa’ija. Saat sebagian warga masih terlelap, perempuan paruh baya itu sudah sibuk di dapur sejak subuh, meracik satu minuman khas yang telah menghangatkan tubuh dan hati masyarakat Bima selama puluhan tahun: mina sarua.
Mina sarua bukan sekadar minuman. Ia adalah warisan rasa yang lahir dari Sila—kini dikenal sebagai Desa Darussalam—dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bima. Dulu, minuman ini hanya bisa dijumpai di Pasar Sila tanpa kedai tetap. Kini, mina sarua mulai menjangkau lebih luas, dijajakan keliling menggunakan sepeda motor hingga mobil pikap ke berbagai desa.
“Harganya bervariasi, ada yang Rp10 ribu sampai Rp20 ribu,” ujar Sa’ija, yang telah menggeluti usaha ini selama lebih dari 20 tahun, melanjutkan tradisi turun-temurun dari orang tuanya.
Racikan Tradisi yang Tak Sederhana
Di balik semangkuk mina sarua, tersimpan proses panjang yang tidak mudah. Bahan utamanya adalah fare keta me’e atau beras ketan hitam, yang dipadukan dengan beragam rempah seperti jahe, kunyit, temulawak, pala, cengkeh, cabe jawa (sabia), dan merica. Semua bahan itu ditumis dan diolah dengan telaten hingga menghasilkan cita rasa khas yang hangat dan kaya rempah.
Pembuatan mina sarua dimulai sejak subuh dan biasanya selesai menjelang pagi. Tepat pukul 07.00 WITA, kedai Sa’ija sudah siap melayani pelanggan hingga malam hari.
Menu yang ditawarkan sederhana namun menggoda: semangkuk mina sarua hangat seharga Rp20 ribu, lengkap dengan lemper mini atau oha kato seharga Rp5 ribu. Paket lengkapnya hanya Rp25 ribu.
Khasiat dan Daya Tarik
Menurut Sa’ija, mina sarua dipercaya memiliki banyak khasiat, mulai dari menghangatkan tubuh, meredakan masuk angin, hingga menghilangkan rasa capek dan pegal-pegal.
Tak heran, minuman ini begitu familiar di kalangan masyarakat Bima. Bahkan, kedai sederhana miliknya pernah dikunjungi berbagai kalangan, mulai dari artis hingga wisatawan mancanegara seperti dari Korea, Jepang, Malaysia, hingga Amerika Serikat.
Antara Rezeki dan Nilai Ibadah
Meski dikenal luas, Sa’ija mengaku tidak menjadikan usaha ini semata untuk mengejar keuntungan.
“Keuntungan tidak banyak, paling sekitar Rp100 ribu per hari. Tapi ini lebih ke nilai ibadah, dan sudah cukup untuk menghidupi keluarga,” tuturnya.
Namun di balik kesederhanaan itu, ada tantangan yang terus menghantui. Harga bahan baku yang terus meningkat menjadi beban tersendiri. Beras ketan hitam 25 kilogram kini mencapai sekitar Rp700 ribu, sementara harga jahe berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Belum lagi biaya tambahan seperti plastik kemasan.
Harapan untuk Bertahan
Kedai mina sarua milik Sa’ija kini telah mengantongi sertifikat halal, menjadi bukti keseriusannya menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan. Meski demikian, ia berharap adanya dukungan lebih dari pemerintah.
Ia menginginkan bantuan fasilitas agar kedainya bisa lebih layak, serta pengendalian harga bahan pokok agar usaha kecil seperti miliknya tetap bertahan.
“Kalau harga tidak dikontrol, minuman khas seperti mina sarua bisa terancam punah,” ujarnya.
Lebih jauh, Sa’ija juga berharap pemerintah dapat melibatkan pelaku UMKM seperti dirinya dalam berbagai event daerah, baik sebagai bentuk promosi maupun kerja sama ekonomi.
Di tengah arus modernisasi, mina sarua tetap berdiri sebagai simbol ketahanan tradisi. Dari dapur sederhana di Desa Darussalam, hangatnya terus mengalir—menjaga rasa, merawat budaya, dan menyimpan harapan akan masa depan yang lebih baik.(TM)
