KabarLagi.com–Setiap sore menjelang azan Asar, suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mulai terdengar dari sebuah bangunan sederhana di Desa Tolouwi, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima. Bangunan itu bukan sekolah mewah, bukan pula pesantren besar. Namun, dari tempat yang jauh dari kata sempurna itu, puluhan anak menanam mimpi menjadi generasi Qur’ani.
Namanya Rumah Qur’an Al-Fitroh. Berdiri sejak 23 Januari 2019 atas prakarsa Ustaz Didi Supratman, S.Pd., lembaga ini menjadi tempat belajar Al-Qur’an bagi anak-anak dari lima desa, yakni Tolouwi, Tolotangga, Waro, Sondo, dan Nontotera.
Setiap hari, sekitar 65 santri datang dengan semangat yang sama. Mereka belajar membaca Al-Qur’an, memperbaiki tajwid, menghafal ayat demi ayat, mempelajari bahasa Arab, hingga memperkuat pemahaman keislaman. Delapan orang pengajar mendampingi mereka dengan penuh kesabaran, meski fasilitas yang tersedia masih sangat terbatas.
Di balik semangat itu, tersimpan perjuangan yang tak banyak diketahui orang.
Mushala yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan pembelajaran hingga kini baru berdiri sekitar 20 persen. Sebagian ruang belajar masih berupa gazebo sederhana yang belum mampu memberikan kenyamanan saat hujan maupun cuaca panas. Ruang kelas yang ada pun belum tertata secara layak untuk menunjang proses belajar mengajar.
Namun, keterbatasan itu tak pernah menjadi alasan untuk berhenti.
Setiap sore, mulai pukul 15.20 hingga 17.30 Wita, anak-anak tetap memenuhi ruang belajar. Mereka datang membawa mushaf Al-Qur’an, harapan orang tua, dan cita-cita menjadi hafiz yang kelak membanggakan keluarga.
Rumah Qur’an Al-Fitroh memiliki target besar. Dalam lima tahun, lembaga ini ingin melahirkan 100 penghafal Al-Qur’an 30 juz. Lebih jauh lagi, para pengasuh bercita-cita menjadikan wilayah Monta Selatan sebagai “Desa Santri 2030”, sebuah kawasan yang hidup dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Untuk mewujudkan mimpi tersebut, berbagai program terus dijalankan. Mulai dari tahsin, tahfiz, tilawah, kelas mengaji untuk orang tua, kajian rutin, wisuda tahfiz, hingga kegiatan ekstrakurikuler pencak silat dan dakwah keliling yang melibatkan para santri.
Tahun depan, Rumah Qur’an Al-Fitroh bahkan berencana membuka sekolah formal berbasis full day school. Harapannya, pendidikan umum dapat berjalan seiring dengan pembinaan karakter dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Bagi Ustaz Didi Supratman dan seluruh pengajar, membangun generasi Qur’ani bukan sekadar mengajarkan anak membaca Al-Qur’an. Mereka sedang membangun masa depan sebuah daerah melalui akhlak, ilmu, dan keimanan.
Mimpi itu memang masih panjang. Mushala belum selesai, ruang belajar masih sederhana, dan kebutuhan fasilitas terus bertambah. Namun, semangat para guru dan santri tak pernah surut.
Mereka percaya, setiap huruf Al-Qur’an yang diajarkan hari ini akan menjadi cahaya bagi masa depan.
Sebab, seperti pesan yang selalu mereka pegang teguh:
“Tidak ada mimpi yang bisa terwujud tanpa kebersamaan dan kontribusi kita semua.”
Di sudut sederhana Desa Tolouwi, mimpi itu terus dijaga. Menunggu lebih banyak tangan yang bersedia ikut menguatkan langkah menuju lahirnya generasi Qur’ani di Monta Selatan. (TM)
