Mengapa Paud di Kelurahan Sepi Peminat: Bukan Soal Biaya Tetapi Soal Komunikasi.

0
62

Oleh : Prasti Amayanti
Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi STIKOM INTERSTUDI
Penulis Buku & Pemerhati Pendidikan Anak Usia Dini

KabarLagi.Com–Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) secara umum ditujukan untuk anak sejak lahir hingga usia 6 tahun berdasarkan ketentuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

PAUD RW di tingkat Kelurahan seharusnya menjadi garda terdepan pendidikan karakter bagi anak-anak Usia Dini. Namun realitanya, minat orang tua untuk menyekolahkan anak di PAUD yang berada di kelurahan masih rendah. Banyak yang lebih memilih menitipkan anak di daycare swasta, les calistung, TPA, atau langsung ke TK/ SD favorit tanpa melewati PAUD. Mengapa?

Penelitian menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap PAUD di tingkat Kelurahan masih rendah dibandingkan PAUD Swasta, meskipun memiliki aksesibilitas dan biaya yang lebih terjangkau. Opini ini menganalisis fenomena tersebut melalui perspektif komunikasi keluarga dan teori komunikasi Robert T, Craig.  Dengan menggunakan pendekatan studi literatur and observasi, ditemukan bahwa sepinya peminat PAUD Kelurahan disebabkan oleh tiga faktor komunikasi utama : (1) stigma negatif yang terbentuk akibat lemahnya strategi komunikasi pemasaran sosial PAUD, (2) krisis kepercayaan terhadap kompetensi pendidik, dan (3) inkonsistensi komunikasi antara lingkungan sekolah dan keluarga yang menyebabkan kegagalan system (tradisi sibernetik).

Berdasarkan observasi dan kajian komunikasi keluarga, ada 5 penyebab utama:

  1. Stigma PAUD RW di Kelurahan = “Tempat menitipkan anak yang Murah”

Di benak masyarakat, PAUD di RW identik dengan gedung, bangunan sederhana, mainan terbatas, kemampuan guru dengan pendidikan seadanya, banyak yang dari warga masyarakat. Padahal yang utama untuk anak-anak adalah bermain di PAUD bukan melihat dari gedung atau tempat yang mewah, tapi pada stimulasi tumbuh kembang anak. Stigma ini diperparah dengan strategi komunikasi Guru PAUD yang lemah. Tidak ada sosialisasi bahwa PAUD RW yang berada di Kelurahan juga mempunyai kualitas dan kurikulum Merdeka PAUD yang sama dengan PAUD swasta yang mahal. Sebagian sudah membentuk Yayasan secara mandiri.

  1. Krisis Kepercayaan Pada Kualitas Guru

Orang tua milenial sangat kritis akan pendidikan. Mereka bertanya: “Gurunya lulusan apa? Punya sertifikat parenting tidak?” Kenyataan banyak PAUD RW di kelurahan gurunya adalah kader atau relawan yang belum mendapat pelatihan konsisten tentang pendidikan PAUD. Akibatnya orang tua merasa tidak ada jaminan profesionalitas dan tidak percaya akan mutu pendidikannya.

  1. Inkonsistensi Pola Asuh Anak di Rumah vs di Sekolah

Di PAUD diajarkan anak untuk bermain, berinteraksi dengan teman dan lingkungan, kemandirian, berbagi, serta sopan santun yang baik, dan tidak ada gadget. Sedangkan saat di rumah, anak dibebaskan main HP berjam-jam tanpa pengawasan orang tua, mereka diasuh oleh keluarga atau ART, karena orang tua bekerja.

Orang tua menganggap PAUD RW “tidak berdampak” karena tidak ada kesinambungan, sarananya sederhana, guru belum Sarjana/S1. Padahal masalahnya bukan di PAUD-nya, tetapi tidak ada edukasi komunitas dengan komunikasi untuk menyamakan visi antara guru dan orang tua.

  1. Kurangnya Ruang Edukasi Antar Keluarga

PAUD swasta mahal, mereka unggul karena mereka punya dukungan Yayasan pendidikan, mempunyai gedung, sarana permainan dan komunitas parenting yang kuat, melalui grup WA aktif, seminar bulanan, parenting class juga dilakukan rutin ke orang tua.

Sementara PAUD RW di kelurahan komunikasinya hanya satu arah, dengan guru memberi pengumuman melalui grup WA, secara nyata tidak ada waktu khusus melakukan pertemuan dengan orang tua melalui Bina Keluarga Balita. Tidak ada ruang dialog antar keluarga untuk berbagi tantangan pengasuhan. Orang tua merasa sendirian dan tidak teredukasi. Guru hanya fokus pada anak-anak peserta didiknya. Program Bina Keluarga Balita ada wujudnya secara teori, tetapi penerapan di lapangan berbeda, tidak terwujud nyata dan tidak terlaksana karena kurangan jumlah Guru dan latar belakang pendikan Gurunya.

  1. Promosi dan Komunikasi yang Digital

PAUD RW di Kelurahan masih mengandalkan promosi menggunakan spanduk di depan balai RW, dirumah warga, di depan musholla, dipinggir jalan sekitar wilatah Kelurahan. Sarana belajar PAUD, misalnya Balai Warga digunakan bergantian dengan aktifitas kegiatan warga lainnya. Promosi di media sosial masih terbatas di lingkungan sekitar.

Sementara PAUD swasta sudah aktif menggunakan media sosial untuk menginformasikan kegiatan PAUDnya. Mereka melalui media sosial menampilkan aktivitas anak yang mempunyai nilai edukatif. Hal ini akan mempengaruhi para orangtua saat akan memasukkan anaknya ke PAUD. Generasi orang tua sekarang adalah generasi digital, mereka akan mencari sekolah PAUD, dengan mengakses lewat media sosial mencari sekolah yang baik dan aman.

Lalu Solusinya Apa?

Agar PAUD RW di Kelurahan kembali diminati, perlu dilakukan perubahan strategi komunikasi:

  1. Ubah dari “Sekolah” menjadi “Pusat Edukasi Komunikasi Keluarga”

Perlu transformasi strategi komunikasi PAUD dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi kolaboratif dan digital storytelling untuk membangun keparcayaan public. Kegiatan tidak hanya fokus mendidik anak, tapi didik juga orang tuanya. Buat program bagi Ayah Bunda dalam Bina keluarga Balita seminggu sekali. Pastikan orang tua berperan aktif dalam pendidikan anaknya, ajak para orang tua untuk meningkatkan literasi dengan gemar membaca, belajar bercerita dan berbagi pengalaman dalam mendidik anak.

  1. Aktifkan Komunikasi Sosiokultural

Bangun komunitas, bukan hanya sebagai kelas, buat sebagai tempat yang santai, menyenangkan dan nyaman. Buat forum “Parenting” dimana antar orangtua  bisa curhat dan belajar bersama. Inilah yang disebut Edukasi Komunitas dilakukan dengan komunikasi personal dengan orang tua untuk menyampaikan pentingnya pendidikan anak usia dini.

  1. Digitalisasi Cerita Baik

Dokumentasikan setiap kegiatan anak dengan baik. Satu video untuk misalnya anak sedang berdoa, belajar cuci tangan, belajar makan mandiri, hal ini akan lebih meyakinkan dari pada menggunakan kertas brosur.

PAUD  di Kelurahan di bentuk satu kelompok disetiap RW atau sesuai kebutuhan. Bukan kalah kualitas, tapi kalah strategi komunikasi. Jika komunikasi keluarga dan komunikasi komunitasnya diperbaiki, maka PAUD RW di kelurahan bisa menjadi pilihan utama, bukan pilihan terakhir karena murah, karena setelah selesai pendidikan di PAUD anak anak dapat melanjutkan ke Sekolah Dasar seseuai ketentuan umur yang berlaku. Sesungguhnya, pendidikan terbaik bukan yang paling mahal, tapi yang paling konsisten antara orang tua dirumah, sekolah, dan lingkungan membuat anak tumbuh kembang dengan baik serta lingkungan yang aman dan ramah anak.

Kini tugas negara melalui Pemerintah Daerah adalah untuk membuat gurunya sejahtera dan mendukung Pendidikan S1 dengan beasiswa bukan membiarkan mereka berjuang sendiri. Di Jakarta sebagai barometer pendidikan PAUD akan memberikan dampak besar bagi daerah lain.

Kerjasama dengan CSR atau perusahaan-perusahaan swasta dapat digalang di 267 Kelurahan di DKI Jakarta.  Mereka membentuk Yayasan kecil, dengan modal swadaya dari guru PAUD, mereka butuh pembinaan untuk meningkatkan sarana dan prasarananya serta kualitas pendidikan gurunya dari kerja sama CSR.

Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, jumlah total satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di DKI Jakarta tercatat sebanyak 5.357 lembaga, Rincian Berdasarkan Jenis Satuan PAUD : TK (Sederajat): 2.945 lembaga, KB (Kelompok Bermain / Sederajat): 602 lembaga, TPA (Tempat Penitipan Anak): 58 lembaga, SPS (Satuan PAUD Sejenis): 1.752 lembaga.

Rincian Per Wilayah Kota/Kabupaten yaitu : Kab. Adm. Kepulauan Seribu: 35 lembaga, Kota Adm. Jakarta Pusat: 532 lembaga, Kota Adm. Jakarta Utara: 835 lembaga,  Kota Adm. Jakarta Barat: 1.133 lembaga, Kota Adm. Jakarta Selatan: 1.172 lembaga dan Kota Adm. Jakarta Timur: 1.650 lembaga

Jakarta sebagai kota modern, tetapi kemoderannya tidak diukur dari gedung-gedung tinggi, atau transporatsi modern melainkan perlu memperhatikan pendidikan yang baik sejak usia dini, juga diawali dengan guru yang berpendidikan serta tempat belajar yang baik dan ramah anak. Dari gang-gang kecil di sudut kota, alat peraga yang sederhana, semangat belajar anak akan terus berkembang dan akan menjadi besar dengan adanya pendidikan anak yang baik. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama dan berperan penting untuk memajukan pendidikan, karena anak-anak inilah nanti yang akan mewarisi untuk membangun Negara.