Jadi Khatib Shalat Idul Fitri, Dr Muhammad Aminullah Sampaikan Tiga Pesan Ramadhan Sejalan Dengan Maja Labo Dahu

0
864

KabarLagi.Com — Dr Muhammad Aminullah, M.Hum menjadi khatib shalat idul Fitri di halaman Kantor Wali Kota Bima. Pada kesempatan tersebut, Alumni Insitute Ilmu Qur’an (PTIQ) Jakarta ini menyampaikan tiga pesan Ramadhan untuk umat Islam.

 

Pesan pertama Ramadhan kata Dr Aminullah adalah Pesan moral atau Tahdzibun Nafsi Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai.

Menurutnya Rasulullah SAW bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri. Di dalam kitab Madzahibu fi al-Tarbiyah, Bahtsun fi al-Madzahibi al-Tarbawi inda al-Ghazali1 diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan.

” Yakni naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan
dibersihkan adalah naluri syahwat,” katanya.

Pesan yang kedua adalah pesan sosial Ramadhan. Menurut Dr Aminullah ini terlukiskan dengan indah. Indah disini justru terlihat pada detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawwal.

Dimana, ketika umat muslim mengeluarkan zakat fithrah kepada Ashnafuts Tsamaniyah (delapan kategori kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir-miskin, tampak bagaimana tali silaturrahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi.

Selanjutnya kebuntuan dan kesenjangan
komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan tiba-
tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan.

” Semangat zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan,”bebernya.

Adapun pesan ketiga adalah pesan jihad
Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam pengertiannya yang sempit;
yakni berperang di jalan Allah akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang
utuh, yaitu:

“Mengecilkan arti  sesuatu  dimilikinya demi mendapatkan keridhaannya, pahala serta keselamatan dari Siksa-Nya.”

Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar.

“Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa ummat Islam baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai,”ujarnya

Selain itu kata dia jika tiga pesan ramadhan di atas selalu kita perhatikan dan praktikkan dalam kehidupan pasca ramadhan, maka akan melahirkan kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial sebagai ciri dari pribadi yang bertakwa.

“Implementasi kesalehan tersebut akan membentuk pribadi yang selalu
berorientasi kepada rahmatan lil alamin (menebarkan kasih sayang kepada
seluruh alam semesta). Sebagaimana orientasi Allah yang diberikan kepada
Nabi Muhammad yaitu sebagai pembawa risalah rahmatan lil alamin,”ungkap Sekretaris Ikatan Alumi Pondok pesantren Al Husaini (Ipah Jaya) Kota Bima Ini.

Dosen Insitute Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Bima ini juga menambahkan ajaran Rasulullah yang berorientasi pada rahmatan lil alamin telah dibuktikannya sepanjang sejarah kerasulannya.

” Tiga hubungan yang saling keterkaitan yakni manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia kepada alam sekitar telah diajarkan dalam ajaran dan risalah kerasulan Muhammad SAW,”katanya.

Menurutnya hal tersebut sangat sejalan dengan ajaran leluhur, budaya dan kearifan lokal yang telah dijadikan motto Kota Bima, yaitu maja labo dahu.

Konsep ideal maja labo dahu adalah mewujudkan kehidupan mantika ro sana di dunia akhira (yang indah dan bahagia di dunia dan akhirat), mantika ro nggari di uma ro sapaja (yang indah dan harmonis dalam rumah tangga), mantika ro nggari di kampo ro mporo (yang indah dan harmonis dalam lingkungan dan masyarakat).

Selanjutnya ketiga konsep tersebut mengisyaratkan tentang keseimbangan
hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan
manusia dengan alam, sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang indah dan
harmonis di dunia maupun akhirat.