Kejujuran yang Hilang: Alarm Merah Karakter Siswa SD di Era Digital

0
322

Kabarlagi.Com-– Nilai kejujuran yang menjadi bagian penting dari ajaran Nabi Muhammad SAW kini menghadapi tantangan besar di lingkungan sekolah dasar. Meskipun para siswa mempelajari hadis tentang kejujuran melalui pelajaran Pendidikan Agama Islam, kenyataannya perilaku keseharian mereka menunjukkan kecenderungan yang semakin jauh dari nilai tersebut. Apa yang diajarkan di kelas belum sepenuhnya tercermin dalam tindakan nyata anak anak.

Dr. Nur Hidayat MAg, dosen Pendidikan Karakter Islami di salah satu kampus di Yogyakarta, menyoroti masalah ini berdasarkan pengamatan langsung. Ia menjelaskan bahwa siswa dapat menghafal hadis tentang kejujuran dan memahami maknanya, namun ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan integritas, masih banyak yang memilih cara yang tidak jujur. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya jurang yang lebar antara pengetahuan moral dan praktik yang seharusnya muncul dalam keseharian.

Ia menilai salah satu penyebab utama persoalan ini adalah pendekatan pembelajaran yang masih berfokus pada hafalan. Anak anak diminta mengingat teks hadis, tetapi tidak dibimbing untuk memahami penerapannya dalam kehidupan nyata. Selain itu, kurangnya keteladanan dari orang orang terdekat turut melemahkan pesan moral yang disampaikan di sekolah. Anak cenderung meniru apa yang mereka lihat setiap hari sehingga perilaku tidak jujur dari lingkungan sekitar dengan cepat memengaruhi sikap mereka.

Guru guru sekolah dasar di Yogyakarta juga mengakui fakta tersebut. Seorang guru Pendidikan Agama Islam di Umbulharjo menyebut bahwa ia sering menemukan siswa mencontek, berbohong tentang tugas yang belum dikerjakan, atau mengambil barang milik temannya tanpa izin. Menurutnya, anak anak sebenarnya mengetahui bahwa perbuatan itu salah, tetapi tetap dilakukan karena berbagai alasan. Situasi serupa disampaikan oleh guru di salah satu sekolah Islam terpadu di Sleman yang menyebut bahwa perilaku tidak jujur masih muncul meskipun pembiasaan hafalan hadis telah dilakukan sejak kelas awal.

Masalah ini semakin rumit karena sistem pendidikan masih sangat menekankan hasil akhir. Tekanan mendapatkan nilai tinggi membuat sebagian siswa cenderung mencari cara cepat meskipun itu bertentangan dengan nilai kejujuran. Harapan orang tua dan persaingan akademik menambah beban yang mendorong anak memilih ketidakjujuran sebagai jalan pintas.

Untuk mengatasi kondisi ini, Dr. Nur Hidayat mengusulkan pendekatan pembelajaran yang lebih menyentuh kehidupan nyata siswa. Ia menekankan pentingnya metode yang menarik seperti bercerita, bermain peran, dan diskusi tentang situasi yang mungkin mereka hadapi. Ia juga menegaskan perlunya dukungan keluarga dan sekolah dalam membangun lingkungan yang benar benar menghargai kejujuran. Menurutnya, tindakan jujur sekecil apa pun perlu diapresiasi agar anak merasa nilai tersebut penting dan dihargai. Di sisi lain, sistem evaluasi juga perlu dibenahi agar tidak melulu menilai hasil, tetapi juga memperhatikan proses dan kejujuran dalam pengerjaan tugas.

Ia menambahkan bahwa keteladanan guru merupakan kunci utama dalam penanaman nilai moral. Perilaku pendidik yang konsisten dengan ajaran yang disampaikan akan memberikan pengaruh jauh lebih kuat daripada penjelasan teoritis. Ketika anak melihat contoh nyata, mereka lebih mudah memahami pentingnya kejujuran.

Menurut Dr. Nur Hidayat, melemahnya nilai kejujuran di kalangan siswa SD harus menjadi perhatian serius. Hadis Nabi bukan sekadar materi hafalan, tetapi pedoman hidup yang seharusnya membentuk karakter generasi muda. Jika nilai ini tidak ditanamkan sejak dini, masa depan masyarakat akan berada dalam kondisi yang rentan. Ia mengajak sekolah, orang tua, dan lingkungan masyarakat untuk bekerja sama menumbuhkan kembali budaya kejujuran sejak usia sekolah.

Ditulis Oleh

Dosen :Dr. Nurhidayat,.M.Ag

Mahasiswa : Sayyid Abdul Munir
di Yogyakarta