Antara Harapan dan Kenyataan Sebuah Refleksi Atas Kepemimpinan

0
68

Edy Kurniawansyah
(Wakil Ketua PWPM NTB)

Ketika kita Kembali menengok kebelakang, teringat bahwa dalam riuhnya dinamika kampanye pemilihan gubernur di Nusa Tenggara Barat, kita dengan penuh keyakinan dan kebanggaan menyuarakan bahwa salah satu kandidat adalah kader dari Muhammadiyah. Identitas itu bukan sekadar label, melainkan simbol nilai, integritas, dan jejak panjang pengabdian. Narasi tersebut tidak hanya digaungkan oleh para pendukung, tetapi juga ditegaskan langsung oleh yang bersangkutan seolah menjadi jembatan yang menghubungkan harapan umat dengan arah kebijakan yang akan ditempuh ke depan.

Dari titik itu, harapan tumbuh subur. Wajar jika publik, khususnya warga Persyarikatan, menaruh ekspektasi besar bahwa kepemimpinan seorang kader akan menghadirkan kontribusi nyata tidak hanya bagi organisasi, tetapi juga bagi umat dan masyarakat luas. Harapan itu mungkin sederhana, namun sarat makna: hadirnya keberpihakan, terbangunnya sinergi, serta terbukanya ruang kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan.

Namun waktu terus berjalan. Lebih dari satu tahun kepemimpinan berlalu, dan di tengah perjalanan itu mulai muncul riak kegelisahan. Sebagian kalangan merasakan bahwa realitas belum sepenuhnya selaras dengan janji-janji yang dahulu disampaikan. Ada jarak yang perlahan terasa antara ekspektasi dan kenyataan. Pertanyaan pun mengemuka, meski sering kali hanya terucap dalam ruang-ruang terbatas: di mana letak persoalannya?

Pada titik ini, barangkali kita perlu menahan diri untuk tidak tergesa-gesa menunjuk kesalahan. Bisa jadi, persoalannya tidak semata terletak pada sosok pemimpin. Mungkin kita sendiri yang kurang mendekat, kurang membangun komunikasi yang intens, atau belum optimal menghadirkan gagasan secara konstruktif. Namun, tidak menutup kemungkinan pula bahwa ada hal-hal yang luput dari perhatian kepemimpinan, sehingga Muhammadiyah belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan strategis daerah.

Refleksi ini kemudian membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: benarkah Muhammadiyah kekurangan sumber daya? Apakah kita miskin ilmuwan, lemah dalam arsitektur gagasan, rapuh dalam kekuatan ekonomi, atau minim pakar dan ulama? Rasanya tidak demikian. Justru sebaliknya, Muhammadiyah telah lama dikenal sebagai lumbung keilmuan melahirkan tokoh, profesional, dan pemikir dari beragam disiplin yang berkontribusi di berbagai lini kehidupan.

Jika demikian, maka persoalan yang kita hadapi mungkin bukan terletak pada ketersediaan kapasitas, melainkan pada bagaimana kapasitas itu terhubung, diberdayakan, dan disinergikan. Ada kemungkinan ruang kolaborasi belum sepenuhnya terbuka, atau komunikasi yang terbangun belum cukup kuat untuk menjembatani potensi besar tersebut dengan kebutuhan nyata dalam kebijakan publik.

Pada akhirnya, refleksi ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun. Ia hadir sebagai ajakan untuk melihat persoalan secara lebih jernih dan dewasa. Bahwa perubahan tidak pernah bertumpu pada satu figur semata, melainkan lahir dari kesadaran kolektif untuk terlibat, mengkritisi dengan bijak, serta menghadirkan solusi yang nyata dan berkelanjutan.

Mari kita jadikan refleksi ini sebagai ruang perenungan bersama. Bukan untuk memperlebar jarak, tetapi untuk menemukan kembali titik temu antara harapan dan kenyataan, antara potensi dan implementasi. Sehingga cita-cita besar NTB MAKMUR MENDUNIA tidak berhenti sebagai slogan, melainkan benar-benar menjelma menjadi realitas yang dirasakan DAMPAKNYA dan Manfaatnya dalam kehidupan masyarakat.