Mencetak Pemimpin Perubahan, Workshop Pendidikan di Bima Fokus pada Transformasi Sekolah

0
14

KabarLagi.com–Upaya memperkuat kualitas pendidikan di Kabupaten Bima terus dilakukan melalui berbagai terobosan yang berfokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan workshop kepemimpinan satuan pendidikan yang menghadirkan kepala sekolah, pengawas, dan pemangku kepentingan pendidikan untuk merancang perubahan nyata di lingkungan belajar.

Kegiatan ini lahir dari kesadaran bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar, tetapi juga menyangkut kualitas kepemimpinan di tingkat sekolah. Karena itu, workshop dirancang untuk membangun karakter pemimpin pendidikan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, mendorong kolaborasi, serta menghadirkan inovasi yang berkelanjutan.

Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bima bersama INOVASI NTB, sebuah program kemitraan Indonesia dan Australia yang selama ini konsisten mendampingi berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan di daerah.

Sebelum memasuki agenda utama, peserta terlebih dahulu mengikuti sesi persiapan dan pengarahan secara daring pada 8 Juni 2026. Tahapan ini menjadi bekal awal agar seluruh peserta memiliki pemahaman yang sama terkait tujuan, metode, dan hasil yang ingin dicapai selama workshop berlangsung.

Pada hari pertama, peserta diajak belajar langsung dari praktik pendidikan di lapangan melalui kunjungan ke sejumlah sekolah dan madrasah. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan refleksi dalam diskusi kelompok yang membahas berbagai tantangan serta peluang pengembangan mutu pendidikan di masing-masing satuan pendidikan.

Memasuki hari kedua, suasana workshop semakin dinamis ketika peserta mulai melakukan pembacaan mendalam terhadap data pendidikan yang tersedia. Melalui analisis Rapor Pendidikan, para peserta dilatih mengidentifikasi persoalan utama yang dihadapi sekolah, sekaligus menyusun langkah-langkah perbaikan yang terukur dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pendampingan dalam penyusunan RKAS yang mendukung penguatan literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Pada sesi yang sama, diperkenalkan pula pendekatan SOLO MASLO atau Solusi Lokal untuk Masalah Lokal, sebuah strategi yang mendorong sekolah menemukan jalan keluar berdasarkan potensi dan kondisi yang dimiliki masing-masing.

Hari terakhir workshop difokuskan pada penyusunan rencana aksi dan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Melalui tahapan ini, seluruh peserta didorong untuk menerjemahkan gagasan dan hasil refleksi menjadi program yang dapat segera diterapkan di sekolah masing-masing setelah kegiatan berakhir.

Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., menilai bahwa perubahan pendidikan tidak cukup hanya melalui pelatihan yang bersifat seremonial, melainkan harus berujung pada perubahan budaya kerja di lingkungan sekolah.

“Mengapa perubahan nyata di kelas masih lambat meski banyak pelatihan diselenggarakan,” tanya retorisnya yang diikuti pernyataan, “perubahan sejati terjadi ketika sekolah merasa memiliki masalahnya sendiri, kepala sekolah hadir sebagai pemimpin pembelajaran, dan guru diberi ruang aman untuk bertumbuh,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa proses transformasi pendidikan membutuhkan komitmen yang berkelanjutan dari seluruh unsur sekolah.

“Tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah lokakarya ini. Mengubah refleksi menjadi rencana, rencana menjadi tindakan, dan tindakan menjadi kebiasaan,” tambahnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima, Faturrahman, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya keterlibatan aktif kepala sekolah dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari. Menurutnya, pemimpin sekolah tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga harus memahami secara langsung dinamika yang terjadi di ruang kelas.

“Jika anak-anak dekat dengan kita, maka mereka akan lebih mudah memahami konsep yang diberikan. Kepala sekolah harus sering masuk ke kelas agar tahu apa yang sesungguhnya terjadi di sana,” tegasnya.

Workshop tersebut melibatkan 10 fasilitator yang berasal dari berbagai unsur pendidikan, mulai dari pengawas sekolah, kepala sekolah, pejabat dinas pendidikan hingga kalangan akademisi. Kolaborasi lintas profesi ini diharapkan mampu memperkaya wawasan peserta dalam menyusun strategi peningkatan mutu pendidikan yang lebih efektif.

Melalui kegiatan ini, lahir harapan besar agar para pemimpin satuan pendidikan di Kabupaten Bima semakin mampu memanfaatkan data sebagai dasar pengambilan keputusan, memperkuat budaya refleksi di sekolah, serta menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh guru dan peserta didik. Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh program yang dirancang, tetapi oleh sejauh mana perubahan itu mampu hidup dan tumbuh di dalam ruang-ruang kelas.(TM)