Menunggu Pemerintah Tak Kunjung Datang, Warga Teta Aspal Jalan dengan Uang Sendiri

0
25

KabarLagi.com—Ada rasa kecewa yang tak lagi cukup disampaikan dengan keluhan. Ada penantian yang terlalu panjang hingga akhirnya warga memilih turun tangan sendiri.

Itulah yang dilakukan masyarakat Desa Teta, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima. Karena lelah menunggu perbaikan dari pemerintah, warga bergotong royong mengaspal jalan menggunakan dana swadaya dan sumbangan para donatur.

Jalan yang setiap hari menjadi urat nadi aktivitas masyarakat itu sudah lama mengalami kerusakan. Kondisinya bahkan dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Sejumlah kecelakaan disebut telah terjadi akibat kondisi jalan yang rusak. Salah seorang warga bahkan mengalami luka pada bagian lengan dan hingga kini masih menjalani perawatan.

Di tengah kondisi tersebut, warga akhirnya mengumpulkan kekuatan sendiri. Mereka menyisihkan uang, menerima bantuan dari para donatur, kemudian bergotong royong memperbaiki jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.

Pemandangan itu mungkin membanggakan karena memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Lambitu. Namun di sisi lain, ada kisah yang cukup menyedihkan: ketika warga harus mengaspal jalan dengan uang sendiri karena terlalu lama menunggu perbaikan.

Masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin jalan yang aman dilalui, agar anak-anak dapat bersekolah, warga dapat bekerja, dan aktivitas ekonomi bisa berjalan tanpa dihantui rasa khawatir.

Semangat warga Desa Teta patut diapresiasi. Namun gotong royong masyarakat hendaknya tidak dimaknai sebagai alasan untuk membiarkan persoalan infrastruktur berlarut-larut.

Warga berharap pemerintah segera melihat kondisi jalan menuju Kecamatan Lambitu secara menyeluruh. Sebab, kerusakan tidak hanya terdapat di satu titik, tetapi masih ditemukan di sejumlah bagian sepanjang akses menuju wilayah tersebut.

Hari ini warga mungkin mampu memperbaiki jalan dengan swadaya. Tetapi keselamatan mereka tetap membutuhkan kehadiran pemerintah.

Di balik aspal yang mereka bentangkan, tersimpan sebuah harapan sederhana: jangan tunggu sampai ada korban berikutnya baru jalan diperbaiki.