Menelusuri persamaan mitologi Bugis, legenda Gunung Sangiang, dan jejak peradaban maritim Nusantara.
Oleh: Furkan Sangiang
Ada kisah menarik ketika kita membaca epos kuno Bugis, I La Galigo, lalu membandingkannya dengan tradisi lisan masyarakat Pulau Sangiang, Kabupaten Bima. Di antara cerita leluhur yang diwariskan turun-temurun, terdapat satu nama yang mengundang rasa penasaran: Saweri Gadi.
Dalam epos La Galigo, Sawerigading dikenal sebagai putra Batara Lattu, seorang pangeran Luwu sekaligus pelaut legendaris yang mengarungi lautan luas. Sementara dalam tradisi masyarakat Sangiang, Saweri Gadi dikisahkan sebagai saudara kembar Saweri Sango. Konon, Saweri Sango berlayar dari arah terbenamnya matahari, sedangkan Saweri Gadi datang dari arah terbitnya matahari. Keduanya saling mencari dengan kapal masing-masing. Namun, ketika bertemu, mereka berselisih hingga kedua kapal saling bertabrakan. Menurut legenda masyarakat, peristiwa itulah yang kemudian melahirkan Gunung Sangiang.
Lantas, apakah kemiripan nama Sawerigading dan Saweri Gadi hanya kebetulan? Ataukah ada jejak hubungan kebudayaan yang belum terungkap antara masyarakat Bugis dan Sangiang.
Kemiripan itu semakin menarik ketika kita menemukan kisah Sangiang Sri dalam La Galigo, sosok yang berkaitan dengan asal-usul padi, sementara masyarakat Sangiang juga mengenal Sanghyang Sri sebagai lambang padi dan sumber kehidupan. Apakah keduanya memiliki akar tradisi yang sama? Pertanyaan ini layak diteliti lebih jauh.
Kemungkinan hubungan tersebut juga dapat ditelusuri melalui sejarah pelayaran dan migrasi. Setelah Perjanjian Bongaya tahun 1667 antara VOC dan Kesultanan Gowa, terjadi perubahan besar dalam kehidupan politik Sulawesi Selatan. Perpindahan para pelaut, prajurit, dan kelompok masyarakat yang menolak perjanjian tersebut menjadi salah satu kemungkinan jalur pertemuan kebudayaan dengan wilayah Bima, termasuk Sangiang. Persoalan ini juga menjadi bagian dari penelusuran dalam buku Legenda dan Realitas: Tradisi Dou Sangiang dan Sejarah Gunung Api serta novel Doro Sangiang karya Furkan Sangiang.
Jejak sejarah Sangiang pun tidak berhenti di sana. Catatan Tomé Pires dalam Suma Oriental yang menjelaskan terkait adanya kerajaan sangiang, Negarakertagama, berbagai catatan pelayaran Eropa, peninggalan arkeologis yang dikaitkan dengan pengaruh India, Vietnam, dan Cina, serta cerita kedatangan Bang Cam masih menyimpan ruang penelitian yang luas. Begitu pula makam yang dikaitkan dengan Syekh Hamzan Al-Fansuri dan Syekh Samsudin Al-Sumatrani, yang mengingatkan kita pada kemungkinan hubungan Sangiang dengan jaringan spiritual Islam dari Aceh dan Sumatra.
Tradisi pembuatan perahu besar dan ritual sakral Kancao Luna juga menarik untuk dibandingkan dengan kebudayaan maritim Bugis-Makassar, khususnya tradisi Pinisi. Dalam penuturan masyarakat, Kancao Luna bukan sekadar proses pembuatan perahu, melainkan ritual yang dimaknai seperti memberikan roh atau kehidupan kepada perahu.
Tentu, semua kemiripan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan langsung. Namun, terlalu banyak jejak menarik untuk dibiarkan tanpa penelitian. Bisa jadi, di balik nama Saweri Gadi, Sanghyang Sri, tradisi perahu, dan kisah pelayaran leluhur, tersimpan cerita panjang tentang pertemuan berbagai peradaban maritim Nusantara.
Sudah saatnya generasi Sangiang menggali sejarahnya sendiri. Cerita para tetua perlu didokumentasikan, peninggalan leluhur diteliti, manuskrip ditelusuri, dan berbagai sumber sejarah dibandingkan. Jangan sampai kekayaan sejarah dan kebudayaan Sangiang hanya menjadi cerita yang perlahan hilang bersama pergantian generasi.
Sangiang bukan sekadar pulau dengan gunung api di tengah lautan. Ia adalah ruang sejarah, tempat legenda, kepercayaan, perjalanan manusia, dan peradaban bertemu.Jangan biarkan sejarah leluhur hanya hidup dalam cerita. Gali, teliti, tuliskan, dan wariskan kepada generasi berikutnya.
