Bakar Obor Budaya, Selamatkan Daratan: Seruan dari Festival Api Sangiang

0
389
Suasana Pantai Sangiang

KabarLagi.Com— Desa Sangiang, yang terletak di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, kini dikenal sebagai salah satu desa pesisir yang mengalami kemajuan cukup pesat. Pesona alamnya yang khas, terutama panorama pantainya, menjadikan Sangiang bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga destinasi yang menarik untuk bersantai, berkumpul, dan menyalurkan kreativitas. Festival Api Sangiang yang segera digelar menjadi bukti hidupnya denyut budaya dan pariwisata lokal. Salah satu daya tarik utama festival ini adalah lomba sampan layar ikon kebanggaan desa yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil kapal pinisi, warisan maritim yang luar biasa.

Kemajuan Sangiang tak hanya terasa di bidang pariwisata, tetapi juga merambah pendidikan, seni, dan kesadaran kolektif warganya. Namun, di balik semua geliat positif ini, terdapat kenyataan lain yang perlu segera mendapat perhatian ancaman abrasi dan pengikisan lahan yang kian hari kian menggerus garis pantai dan permukiman warga.

Warga setempat masih mengingat bagaimana garis pantai dahulu begitu jauh dari pemukiman. Salah satu titik yang menjadi saksi sejarah adalah Toro Pusu kawasan yang dulu dikenal dengan keberadaan toko milik Baba Hingko, seorang Tionghoa yang tinggal di sana. Kini, lokasi tersebut telah tergerus air laut, tenggelam bersama sejarahnya. Abrasi telah mengikis daratan secara perlahan namun pasti.

Beberapa tahun terakhir, relokasi warga pun sempat dilakukan. Rumah-rumah di pesisir pantai dipindahkan ke dataran lebih tinggi di atas bukit, dekat lapangan desa. Gelombang pasang yang disebabkan oleh abrasi memaksa mereka meninggalkan tempat tinggal lama. “Saat kecil, kami masih melihat pohon sarigi dan tampode di sepanjang pantai. Tapi sekarang semuanya sudah hilang karena abrasi,” kenang seorang pemuda desa dengan nada haru.

Kondisi ini kian diperparah dengan fenomena terkini di Dusun Bronjong, di mana banjir telah menyebabkan pengikisan tanah yang mengancam permukiman. Tebing yang tadinya menjadi pelindung alami kini hanya berjarak setengah meter dari rumah warga. Dua ancaman besar abrasi laut dan pengikisan darat menghimpit Sangiang dari dua arah.

Jika situasi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Sangiang kelak akan lenyap dari peta. Kita tidak bisa lagi hanya menjual festival dan pesona wisata tanpa berpikir soal keberlanjutan desa. Festival Api Sangiang seharusnya tidak hanya menjadi ajang promosi budaya dan hiburan, tetapi juga momentum refleksi dan penataan ulang arah pembangunan desa.

Pemerintah, tokoh masyarakat, pemuda, dan semua elemen desa perlu duduk bersama. Sangiang yang maju harus dibarengi dengan Sangiang yang tangguh menghadapi perubahan alam. Investasi pada wisata harus diimbangi dengan investasi pada perlindungan wilayah pesisir dan edukasi mitigasi bencana. Karena tanpa itu, warisan budaya, sejarah, dan kemajuan Sangiang terancam hilang bersama gelombang laut yang terus mengikis daratannya.

Kini saatnya kita bertindak. Sangiang bukan sekadar tempat tinggal ia adalah identitas, warisan, dan harapan. Jangan biarkan Sangiang hanya tinggal kenangan.