Oleh : Dr. Ahmad Fathoni, C.EIA
(Pemerhati Lingkungan Hidup)
Gelaran MotoGP Mandalika pada tanggal 4-5 Oktober 2025 baru saja usai dengan rekor kehadiran penonton sekitar 140.324 orang yang menandakan lonjakan kunjungan wisatawan yang membagakan selama event ini ada. Penyelenggaraan ini diperkirakan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp 4,8 triliun yang tercecer pada akomodasi, transportasi, kuliner, dan UMKM. Dampak ekonomi langsung ini menjadikan Mandalika sebagai pendorong pariwisata menuju NTB mendunia.
Lonjakan okupansi hotel dan permintaan jasa selama MotoGP meningkatkan pendapatan sektor pariwisata, peningkatan jumlah tamu hotel dan lama tinggal di kawasan Mandalika dan sekitarnya. Manfaat ekonomi ini bersifat temporer dan sangat bergantung pada durasi event serta kemampuan pelaku usaha lokal untuk mempertahankan pelanggan setelah event selesai. Diperlukan strategi pengembangan pariwisata secara utuh selama satu tahun pasca event agar kawasan Mandalika tidak menjadi destinasi pariwisata musiman pada musim Bau Nyale bulan Februari dan MotoGP bulan Oktober saja.
Keramaian MotoGP menjelma menjadi event special bagi penduduk kelas menengah dan atas. Pada harga tiket termurah jenis tiket regular Grandstand E,G,H,I Rp. 200 ribu per orang dan termahal VIP Deluxe Class Rp. 15 jt per orang, rasanya sulit terbeli kaum miskin NTB dengan pendapatan kurang dari Rp. 556.846 per kapita per bulan untuk dapat menonton perhelatan MotoGP ini. Adakah mereka kaum miskin NTB memperoleh tiket gratis dari EO atau Pemerintah atau diperkenankan menonton gratis dari atas bukit untuk menikmati sejenak kebahagian milik kaum borjuis?
Penduduk miskin NTB tercatat menurun sedikit dari 11,91% (Sept 2024) menjadi 11,78% (Maret 2025). Tetapi angka ini masih bersifat dinamis, apakah event MotoGP dapat menurunkan angka kemiskinan dengan banyaknya UMKM yang terlibat dan diberikan tempat gratis untuk berjualan, kita lihat saja nanti pada rilis angka kemiskinan berikutnya?. Kesimpulan sementara kaum miskin masih bermimpi menjadi penonton event MotoGP, keterlibatan kaum miskin NTB dalam siklus rantai ekonomi utama dan penopang event MotoGP secara langsung pada poin structural belum memiliki istrumen kebijakan inklusif. Pada event berikutnya perlu intervensi pemerintah untuk memastikan keterlibatan kaum miskin sebagai penonton dengan tiket gratis dan sebagai pekerja event atau pendukung event secara langsung agar pembangunan ini untuk semua bahagia bersama.
Pada sisi berikutnya yaitu dampak MotoGP bagi lingkungan hidup banyak pihak kurang melirik. Catatan sumber dampak lingkungan hidup selama event MotoGP untuk avtur naik dari 90 KL menjadi 140 KL per hari dan gasoline naik dari 1.578 KL menjadi 1.739 KL per hari, gasoil dari 560 KL menjadi 596 KL per hari dan LPG naik melebihi 475 MT per hari. Angka ini pada sisi pencemaran udara adalah indicator meningkatnya emisi karbon, khususnya dari transportasi darat dan udara.
Produksi sampah padat dengan standar per orang 0,7 kg x 140.324 setara 98.226 kg per hari. Limbah cair 100 liter/orang x 60% setara 8.419.440 liter per hari. Hal ini tentu akan menambah beban pencemaran pada air permukaan, air tanah dan air laut sekitar kawasan Mandalika. Event ini ke depan bukan hanya wajib mengelola sampah dan limbah cair secara mandiri, tetapi juga harus melakukan edukasi bahwa setiap pengunjung MotoGP harus melakukan aksi lingkungan hidup minimal untuk limbahnya sendiri dalam bentuk donasi lingkungan atau aksi konservasi seperti 1 orang menanam 1 pohon pada kawasan Mandalika untuk perbaikan berkelanjutan pada aspek kualitas air, udara dan tutupan lahan yang masih gersang.
