Mahasiswa Butuh Model Pembelajaran Digital Berbasis STEM untuk Tingkatkan Kemampuan Membaca Akademik

0
274
Dosen UMMAT, Dr. Hijril Ismail. M.Pd

KabarLagi.Com— Integrasi pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dalam pembelajaran Bahasa Inggris dinilai semakin penting di era digital. Hal ini terungkap dalam hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Hijril Ismail, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT). Penelitian tersebut mengkaji kebutuhan mahasiswa terhadap model pembelajaran digital berbasis STEM untuk meningkatkan kemampuan academic reading.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Indonesian EFL Journal edisi Januari 2025 ini melibatkan 22 mahasiswa melalui survei dengan 33 indikator. Hasilnya, mayoritas mahasiswa mengakui bahwa pendekatan STEM membantu mereka memahami teks akademik secara lebih baik dan meningkatkan motivasi belajar.

Teks Akademik Masih Menjadi Tantangan

Sebanyak 86 persen mahasiswa menyatakan membaca teks akademik merupakan keterampilan penting selama studi. Meski demikian, 77 persen mengaku masih kesulitan memahami kosakata akademik dan struktur kalimat yang kompleks.

“Mahasiswa membutuhkan strategi belajar yang lebih terstruktur, termasuk latihan membaca intensif dan panduan menyusun ringkasan,” tulis Hijril.

Aplikasi Digital Dinilai Sangat Membantu

Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan aplikasi digital khususnya yang memiliki fitur interaktif, simulasi berbasis STEM, serta gamifikasi dinilai mampu meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar.

Sekitar 82 persen responden menyatakan memerlukan laporan perkembangan belajar, dan 63 persen menilai fitur kolaborasi sangat penting dalam aplikasi pembelajaran. Sebaliknya, kendala teknis seperti akses internet dan perangkat, serta kurangnya pelatihan penggunaan aplikasi, masih menjadi hambatan utama.

Keterampilan Abad ke-21 Jadi Kebutuhan Mendesak

Mahasiswa menilai bahwa pendekatan STEM tidak hanya membantu pemahaman teks, tetapi juga berkontribusi pada penguatan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.

“Integrasi STEM membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan analitis dan problem solving, dua keterampilan yang sangat relevan dengan tuntutan dunia kerja,” jelas Hijril.

Perlu Dukungan Kurikulum dan Infrastruktur

Mayoritas mahasiswa berharap aplikasi pembelajaran digital memiliki tampilan sederhana, mudah digunakan, serta terintegrasi dengan materi kuliah. Mereka juga mengharapkan panduan komprehensif agar dapat memaksimalkan pemanfaatan teknologi pembelajaran.

Hijril menegaskan, implementasi STEM dalam pembelajaran Bahasa Inggris memerlukan dukungan kurikulum, pengembangan sumber belajar digital, serta strategi pengajaran yang lebih adaptif.

“Tanpa dukungan ekosistem pendidikan yang memadai, manfaat STEM tidak akan optimal,” tulisnya dalam kesimpulan penelitian.

Penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi perguruan tinggi yang tengah mengembangkan model pembelajaran digital dan berupaya memperkuat literasi akademik mahasiswa di era teknologi.