KabarLagi.Com–Rangkaian kegiatan Dialog Pemajuan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat (NTB) Seri 3 resmi berlangsung pada Senin, 1 Desember 2025, di Hotel Sima, Kuta, Lombok Tengah. Acara ini melibatkan 50 peserta dari dua kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur yang terdiri atas budayawan, akademisi, unsur pemerintah daerah, hingga perwakilan komunitas budaya. Sejak pukul 08.00 WITA, seluruh peserta mengikuti jalannya dialog dengan antusias dan penuh keterlibatan.
Dialog ini dirancang sebagai forum strategis lintas sektor untuk memperkuat arah kebijakan kebudayaan daerah, serta membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya tata kelola budaya yang terencana dengan baik dan berkesinambungan. Sejak awal kegiatan, suasana diskusi terlihat hidup; peserta saling bertukar pandangan, menceritakan pengalaman, serta menyampaikan rekomendasi terkait pengelolaan kebudayaan di wilayahnya masing-masing.
Dalam sambutan pembuka, Ketua Dewan Kebudayaan Daerah NTB, Prof. Abdul Wahid, menegaskan bahwa dialog ini bukan sekadar forum diskusi rutin. Ia menegaskan bahwa salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah mempercepat pembentukan Dewan Kebudayaan di setiap kabupaten/kota di NTB, khususnya di Lombok Tengah dan Lombok Timur. Kehadiran lembaga tersebut di tingkat daerah dianggap sebagai pondasi penting dalam memastikan keberlanjutan pelestarian budaya sekaligus menjadi ruang bersama bagi para pemangku kepentingan kebudayaan.
Prof. Abdul Wahid menyoroti bahwa Dewan Kebudayaan Daerah kelak akan menyusun grand design kebudayaan yang terintegrasi di seluruh wilayah NTB. Menurutnya, tata kelola budaya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri atau hanya bersifat proyek sesaat; perlu ada arah kebijakan yang seragam dan saling mendukung antarwilayah agar kebudayaan NTB dapat tumbuh sebagai kekuatan pembangunan daerah.
Ia juga menekankan pentingnya pembentukan badan resmi atau pembadanan bagi Dewan Kebudayaan sebagai tanda keseriusan pemerintah dan masyarakat dalam mengawal eksistensi kebudayaan daerah. Dengan adanya struktur kelembagaan yang kuat, budaya NTB diharapkan tidak hanya bertahan di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga mampu tampil di panggung internasional.
Selain itu, dialog ini menegaskan perlunya kolaborasi menyeluruh antara pemerintah daerah, akademisi, pelaku seni, komunitas budaya, dan masyarakat adat. Forum ini menjadi jembatan untuk menyatukan berbagai gagasan dan pengalaman demi menyusun strategi pengelolaan kebudayaan yang inklusif, terarah, dan berorientasi masa depan. Harapannya, tidak ada lagi sekat-sekat kepentingan yang menghambat kemajuan kebudayaan di NTB.
Di penghujung sesi, Prof. Abdul Wahid kembali mengingatkan bahwa para peserta tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi sebagai penggerak perubahan. Ia berharap seluruh peserta dapat menyampaikan rekomendasi yang kuat dan dapat ditindaklanjuti, mulai dari penguatan kelembagaan, pemetaan potensi budaya daerah, strategi pelestarian, hingga upaya pengembangan budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Rekomendasi yang lahir dari forum ini akan menjadi dasar penyusunan langkah konkret bagi pembentukan Dewan Kebudayaan di Lombok Tengah dan Lombok Timur. Karena itu, dialog ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya kebijakan budaya yang lebih terarah dan berdampak nyata.
Menutup sambutannya, Prof. Abdul Wahid menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berkomitmen hadir dan berkontribusi. “Terima kasih atas kehadiran dan energi yang telah diberikan. Semoga dialog hari ini menjadi ruang lahirnya ide-ide besar yang membawa kebudayaan NTB semakin maju,” ujarnya.
Dengan dimulainya Dialog Pemajuan Kebudayaan NTB Seri 3 ini, Pemerintah Provinsi NTB bersama Dewan Kebudayaan Daerah semakin meneguhkan komitmen untuk menjadikan kebudayaan sebagai salah satu fondasi pembangunan peradaban daerah. Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian penting dalam upaya jangka panjang menjaga, mengembangkan, dan memajukan kekayaan budaya NTB agar tetap relevan dan memberi manfaat bagi masyarakat di masa mendatang.
