Oleh: Edy Kurniawansyah
Dosen FKIP Unram
Dipenghujung tahun 2025 sampai dengan awal tahun 2026 suasana kampus universitas sedikit diselimuti dengan dinamika yang mengasyikkan dan penuh kehangatan, Dimana momentum ini dihadapakan dengan kontestasi besar yaitu pergantian kepemimpinan rektor Universitas Mataram. Hasil akhir dari kontestasi ini mengantarkan Prof. Sukardi sebagai rektor terpilih universitas Mataram periode 2026-2030.
Terpilihnya Prof. Sukardi sebagai rektor baru Universitas Mataram menghadirkan optimisme baru bagi sivitas akademika. Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang menuntut kecepatan beradaptasi, inovasi berkelanjutan, dan kepemimpinan yang inklusif, kehadiran Prof. Sukardi dapat dianalogikan sebagai matahari muda penuh energi, memberi cahaya pembaruan, namun tetap menyejukkan bagi lingkungan sekitarnya.
Sebutan “matahari muda” bukan semata soal usia, melainkan semangat dan cara pandang. Prof. Sukardi dipersepsikan membawa visi yang segar terhadap tata kelola universitas, dengan penekanan pada kolaborasi, keterbukaan, dan penguatan kualitas akademik. Di era ketika kampus dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi bagi masyarakat, kepemimpinan yang adaptif dan responsif menjadi kunci. Di sinilah kesejukan gaya kepemimpinan Prof. Sukardi menemukan relevansinya.
Kesejukan tersebut tercermin dari pendekatan dialogis dan kesediaan merangkul seluruh unsur kampus. Universitas bukan hanya bangunan dan kurikulum, melainkan ekosistem manusia dengan latar belakang, kepentingan, dan gagasan yang beragam. Rektor yang menyejukkan adalah mereka yang mampu mengelola perbedaan tanpa menciptakan jarak, serta menjadikan kritik sebagai bahan refleksi, bukan ancaman.
Namun demikian, kesejukan tidak boleh diartikan sebagai ketiadaan ketegasan. Justru, matahari yang baik adalah yang konsisten memberi cahaya dan arah. Prof. Sukardi dihadapkan pada pekerjaan rumah besar: meningkatkan daya saing Universitas Mataram, memperkuat riset dan publikasi, serta memastikan kampus hadir dan BERDAMPAK nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa. Untuk itu, diperlukan keberanian mengambil keputusan strategis, meski tidak selalu populer.
Harapan civitas akademika kini bertumpu pada kemampuan Prof. Sukardi memadukan semangat muda dengan kebijaksanaan akademik. Keteladanan dalam integritas, profesionalisme, dan etos kerja akan menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan. Dari sanalah budaya akademik yang sehat dapat tumbuh dan berkembang.
Sebagai “matahari muda yang menyejukkan” diharapkan tidak hanya menerangi arah Universitas Mataram, tetapi juga menghangatkan semangat seluruh warganya untuk bergerak bersama. Jika cahaya itu terus dijaga tidak menyilaukan, namun cukup terang maka Universitas Mataram berpeluang melangkah lebih maju, mantap, dan bermakna bagi masyarakat luas. Maka pada akhirnya, waktu yang akan menguji. Namun, dengan cahaya yang tidak menyilau dan kehangatan yang menenangkan, Prof. Sukardi memiliki modal penting untuk menuntun Universitas Mataram menuju masa depan yang lebih cerah, kampus unggul yang berdaya saing Global.
