Terancam Lumpuh! Pengiriman Puluhan Ribu Sapi Bima–Dompu Bisa Kacau, Asosiasi Desak Tambahan Armada Kapal

0
146

KabarLagi.Com– Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima–Dompu Indonesia secara tegas meminta kesiapan armada kapal di Pelabuhan Gili Mas dan Pelabuhan Lembar menjelang dimulainya lonjakan pengiriman sapi pasca-Idulfitri.

Permintaan ini muncul karena kekhawatiran terulangnya krisis transportasi laut seperti tahun-tahun sebelumnya yang menyebabkan penumpukan truk pengangkut sapi hingga berhari-hari.

Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima–Dompu Indonesia, Dr. Furkan Sangiang, menegaskan bahwa kondisi keterbatasan kapal tidak boleh lagi dianggap persoalan rutin tahunan.

“Jangan sampai kejadian lama terulang. Tahun-tahun sebelumnya truk dan tronton pengangkut sapi menumpuk karena armada kapal terbatas. Dampaknya bukan hanya kerugian ekonomi, tapi juga risiko kematian ternak karena terlalu lama antre di pelabuhan,” ujarnya.

Menurutnya, situasi tahun ini jauh lebih krusial. Bali yang tahun kemarin, menjadi salah satu jalur alternatif pengiriman ternak, kini menghadapi persoalan penyakit hewan, sehingga opsi distribusi melalui Bali menjadi sangat terbatas.

“Kalau tahun lalu tidak ada opsi lewat Bali, mungkin sudah banyak sapi mati di antrean. Sekarang jalur itu makin tipis. Artinya, beban penuh ada di pelabuhan NTB. Ini harus diantisipasi serius,” tegas Furkan.

Asosiasi secara khusus meminta Pelindo, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), serta Pemerintah Provinsi NTB untuk segera mengambil langkah konkret, termasuk penambahan frekuensi dan kapasitas armada kapal pengangkut ternak.

Setiap tahun, kawasan Bima–Dompu di Pulau Sumbawa mengirim sekitar 20 ribu ekor sapi ke wilayah Jabodetabek untuk memenuhi kebutuhan pasar Iduladha. Aktivitas ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat peternak.

Dr. Furkan menyebut, sektor peternakan sapi dari wilayah ini menyumbang perputaran ekonomi yang sangat besar.
“Perputaran ekonomi dari sektor peternakan sapi Bima–Dompu hampir mencapai Rp500 miliar per tahun. Ini bukan angka kecil. Tapi ironisnya, perhatian terhadap kesiapan armada kapal masih minim,” katanya.

Ia menilai persoalan transportasi laut ternak seharusnya sudah masuk dalam perencanaan tahunan lintas instansi, bukan sekadar penanganan darurat saat terjadi penumpukan.

“Ini siklus tahunan, bukan kejadian tak terduga. Jadi harus ada perencanaan, bukan reaksi dadakan. Kalau pengiriman tersendat, peternak rugi, pedagang rugi, dan rantai pasok daging nasional ikut terganggu,” tambahnya.

Asosiasi berharap seluruh pemangku kepentingan segera duduk bersama untuk memastikan kelancaran distribusi ternak dari NTB, agar potensi kerugian besarbbaik ekonomi maupun kematian hewan tidak kembali terjadi.

” Selama ini bagi masyarakat Bima -Dompu dan sumbawa. Musim idul qurban ibarat pesta rakyat, untuk mencari rejeki dengan membawa sapi ke Jabodetabek. Dan hasil itu sebagai penopang ekonomi mereka. Maka perlu harus diperhatikan,”pungkasnya.