Festival Paroso Ditutup, Budaya Samawa Didorong Menembus Ruang Digital

0
13

KabarLagi.com— Festival Budaya Paroso 2026 di Kecamatan Moyo Hilir resmi berakhir, Minggu malam (9/8). Penutupan festival tidak hanya menjadi penanda berakhirnya rangkaian pertunjukan budaya selama sepekan, tetapi juga menyisakan pesan tentang bagaimana tradisi Samawa tetap relevan di tengah perkembangan teknologi.

Bupati Sumbawa, H. Jarot, mengajak generasi muda tidak berhenti pada upaya melestarikan budaya secara konvensional. Menurutnya, perkembangan teknologi justru dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Samawa kepada khalayak yang lebih luas.

“Yang kita tutup malam ini hanyalah rangkaian acaranya, bukan semangat budayanya,” kata Jarot.

Menurutnya, antusiasme masyarakat sepanjang pelaksanaan Festival Budaya Paroso menunjukkan bahwa seni dan tradisi Samawa masih memiliki ruang kuat di tengah masyarakat. Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu indikator bahwa warisan budaya tersebut belum kehilangan daya tariknya.

Festival yang mengusung tema “Merawat Warisan, Menggerakkan Peradaban” itu menghadirkan beragam tradisi lokal. Mulai dari permainan tradisional Kolo dan Rabanga, pawai budaya, Sakeco, Ngumang, Bakelung, Rabalas Lawas hingga Ratib Rabana Ode.

Bagi Jarot, budaya tidak sebatas pakaian adat, tarian atau pertunjukan yang ditampilkan dalam sebuah festival. Lebih dari itu, budaya merupakan bagian dari identitas yang membentuk karakter masyarakat.

Karena itu, ia meminta generasi muda Moyo Hilir tetap percaya diri dengan identitas sebagai Tau Samawa, sembari terbuka terhadap perkembangan zaman.

“Kita boleh menguasai teknologi, mengikuti perkembangan zaman dan menjadi generasi modern. Tetapi jangan sampai kita menjadi generasi yang maju teknologinya, tetapi lupa budayanya,” ujarnya.

Ia bahkan mendorong kesenian seperti Lawas, Sakeco dan Ngumang dikemas lebih kreatif untuk masuk ke berbagai platform digital. Media sosial seperti TikTok, YouTube dan Instagram dinilai dapat menjadi ruang baru untuk mengenalkan budaya Samawa, terutama kepada generasi muda di luar daerah.

“Bawa budaya kita ke ruang digital, bukan untuk mengubah jati diri kita, tetapi untuk menunjukkan kepada dunia: inilah Tau Samawa, inilah budaya kami,” katanya.

Festival Paroso juga diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang sekadar menampilkan kesenian tradisional. Menurut Jarot, kegiatan budaya memiliki peluang untuk berkembang menjadi ruang kreativitas sekaligus mendukung pariwisata dan perputaran ekonomi masyarakat.

“Mari kita jadikan festival ini bukan hanya sebagai ruang untuk melestarikan budaya, tetapi juga sebagai ruang untuk menggerakkan kreativitas, pariwisata dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Festival Budaya Paroso 2026 melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan selama sepekan. Selain menjadi panggung bagi seniman dan pelaku budaya, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan masyarakat untuk merawat tradisi lokal di tengah perubahan zaman.