Osap Lombok Sapa Masyarakat Yogyakarta

0
21

Kabarlagi.com–Satu koleksi kain Osap Lombok dari Museum NTB turut disaksikan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon dalam pameran Nasional Nusa Wastra yang diselenggarakan di Gedung Saraswati, Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, Jumat (5/6).

Dari sekitar 85 koleksi wastra dan 22 benda penunjang koleksi yang di tampilkan dari 40 partisipan institusi kebudayaan, museum NTB menghadirkan kain Osap sebagai representasi kekayaan budaya NTB untuk menyapa masyarakat nasional.

Kain Osap sendiri merupakan warisan tenun ikat tradsional masyarakat Sasak di Pulau Lombok yang memiliki nilai budaya, filosofis, dan spiritual yang tinggi.

Kain ini tidak hanya berfungsi sebagai busana adat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam sistem kepercayaan dan ritual masyarakat Sasak.

Pamong Budaya Muda Museum NTB, Itsna Hadi Saptiawan, menjelaskan bahwa kain Osap merupakan tenun sakral yang memiliki keterkaitan erat dengan tradisi penghormatan kepada leluhur dan ritual kematian dalam sistem kepercayaan masyarakat Sasak.

“Jadi kain Osap ini bukan sekdar pakaian, melainkan benda magis yang menjadi penanda tradisi kehidupan manusia menuju alam baka dalam kepercayaan adat sasak”, ujarnya di Mataram, Senin (8/6).

Ia menjelaskan bahwa unsur dalam kain Osap memiliki simbol kekuatan magis, seperti warna dasar putih yang dipadukan dengan warna merah dan biru.

“Warna putih itu melambangkan kesucian, keikhlasan dan kepasrahan. Sedangkan warna merah dan biru sering di kaitkan dengan kekuatan spiritual atau perlindungan”, katanya.

Selain warna, motif kain Osap juga mengandung filosofi mendalam. Menurut Itsna Hadi, ragam hias pada kain tersebut remasuk kategori reragian, yaitu motif tenun yang pembuatannya memiliki aturan adat tertentu.

“Tenun ini dianggap sarat dengan energi spiritual dari para leluhur. Motif geometris melambangkan keteraturan hidup, sementara motif silang dimaknai sebagai simbol penolak bala”, jelasnya.

KabarLagi.com—Dalam pameran bertajuk “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara”, Kain Osap ditempatkan pada subtema Kain-Kain Magis, sebuah alur cerita pameran yang mengangkat wastra Nusantara sebagai bagian dari kosmologi dan ritual kehidupan masyarakat.

Kurator Museum Sonobudoyo Yashika Sidik Pradhana, dikutip dari buku  Katalog “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” menjelaskan Wastra magis dipandang sebagai teks kosmologis atau “kitab simbolik” yang ditenun, di batik, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena menurutnya, ia merekam cara pandang masyarakat Nusantara terhadap kehidupan, kematian, kekuasaan, kesucian, serta hubungan manusia dengan alam dan dunia spiritual. Sehingga kain sakral dipahami sebagai tanda budaya yang menyimpan makna kolektif suatu komunitas.

Pameran Nasional Wastra merupakan agenda satu tahun sekali. Dan penyelenggaran Wastra di tahun 2027 yang akan menjadi tuan rumah adalah museum Bali.

Sementara dalam diskusi kepala-kepala Museum se-Indonesia yang hadir pada pameran tersebut, Museum Negeri NTB direkomendasikan untuk menjadi tuan rumah pada tahun 2028 mendatang.

Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, menyampaikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada Museum NTB sebagai tuan rumah Pameran Nasional merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar untuk mempromosikan kekayaan budaya daerah.

Menurutnya, penyelenggaraan Nusa Wastra 2028 di NTB diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi terhadap keragaman wastra Nusantara, tetapi juga mampu memperkuat posisi NTB sebagai salah satu pusat kebudayaan Indonesia yang kaya akan tradisi tenun dan warisan budaya tak benda.

“Kami menyambut baik kepercayaan ini dan akan mempersiapkan diri secara maksimal. Menjadi tuan rumah pada tahun 2028 merupakan kesempatan strategis untuk kita menampilkan kekayaan budaya NTB kita kepada masyarakat nasional. Selanjutnya kami akan melaporkan kepada pimpinan agar persiapan dan perencanaan dapat dilakukan sebaik mungkin”, pungkasnya.