Rumah Baru untuk Hadijah: Harapan di Tengah Luka Banjir

0
18

KabarLagi.com–Di usia 75 tahun, Hadijah tak lagi memiliki banyak hal untuk diandalkan. Sejak suaminya meninggal dunia, perempuan lanjut usia yang tinggal di Dusun Rasanggaro Barat, Desa Matua, Kecamatan Woja, itu menjalani hari-harinya seorang diri.

Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh juga tak selalu memberikan rasa aman. Setiap kali hujan deras turun dan banjir datang, kecemasan ikut menyelimuti hidupnya. Air yang meluap kerap mengancam rumah sederhana yang ditempatinya.

Namun di tengah keterbatasan itu, secercah harapan mulai berdiri perlahan dalam bentuk bangunan baru yang kini sedang dikerjakan secara gotong royong.

Sejumlah warga, para donatur, dan Bhabinkamtibmas Desa Matua, AIPTU Wawan Dermawan, bahu-membahu membantu pembangunan rumah yang lebih layak untuk Hadijah. Sedikit demi sedikit, dinding rumah mulai tegak. Pondasi yang dibuat lebih tinggi menjadi upaya agar bangunan tersebut lebih aman dari ancaman banjir yang selama ini menghantui.

Rumah berukuran 6 x 6,5 meter itu dirancang sederhana namun cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar penghuninya. Di dalamnya terdapat satu kamar tidur, ruang tamu, dapur, serta kamar mandi. Sebuah emperan di bagian depan juga dibangun sebagai ruang tambahan untuk beraktivitas.

Biaya pembangunan diperkirakan mencapai Rp70 juta hingga Rp80 juta, jumlah yang tidak kecil bagi sebuah pembangunan swadaya masyarakat.

Bagi AIPTU Wawan Dermawan, keterlibatannya dalam pembangunan rumah tersebut bukan semata tugas sebagai aparat, melainkan panggilan kemanusiaan.

“Apa yang kami lakukan murni karena rasa kemanusiaan dan keinginan untuk membantu sesama, terutama warga yang membutuhkan perhatian dan bantuan. Ibu Hadijah merupakan warga lanjut usia yang hidup sendiri dan rumahnya sering terdampak banjir, sehingga kami tergerak untuk membantu pembangunan rumah yang lebih layak,” ujarnya.

Menurutnya, proses pembangunan masih membutuhkan dukungan banyak pihak agar dapat segera diselesaikan. Ia berharap kepedulian masyarakat dan para donatur terus mengalir sehingga Hadijah dapat segera menempati rumah barunya.

“Kami berharap ada bantuan dan uluran tangan dari para donatur maupun masyarakat yang peduli agar pembangunan rumah Ibu Hadijah dapat segera rampung sehingga beliau dapat tinggal dengan aman dan nyaman,” katanya.

Kisah Hadijah menjadi gambaran bahwa di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi warga, semangat gotong royong masih hidup. Ketika satu orang menghadapi cobaan, tangan-tangan lain datang membantu tanpa banyak bicara.

Bagi Hadijah, rumah yang sedang dibangun itu mungkin bukan sekadar bangunan dari semen dan bata. Di dalamnya tersimpan harapan untuk menjalani masa tua dengan lebih tenang, jauh dari rasa cemas setiap kali musim hujan tiba.(TM)