Trending

3 Diksi Ini Tidak Seharusnya Keluar dalam Debat Rocky Gerung vs Henry Subiakto

KabarLagi.com, Komunikolog Indonesia, Emrus Sihombing menilai setidaknya ada tiga diksi yang menyebabkan debat Rocky Gerung (RG) dan Henry Subiakto (HS) dalam sebuah acara televisi swasta beberapa hari lalu tidak pantas untuk dipertontonkan dihadapan publik.

“Jadi, ada dua diksi utama yaitu ‘professor’ dan ‘ketinggalan’,” kata Emrus dalam keterangan resmi kepada kabarlagi.com, Rabu (2/9/20).

Emrus mengatakan pada debat tersebut HS mengemukakan bahwa dirinya adalah seorang profesor beneran dan menyebut RG pakai teori-teori yang kadang-kadang di kampusnya sudah ketiggalan.

Kemudian, diksi ‘ketinggalan’ yang mengikuti sebutan ‘teori’, seperti ungkapan ‘teori yang sudah ketinggalan’.

“Sebab, makna penggunaan kata sifat ‘ketinggalan’ masih sumir. Kriterianya kurang jelas. Banyak teori ditemukan sudah cukup lama tetapi masih relevan untuk memahami dan menjelaskan fenomena kekinian sebagai fungsi teori,” katanya.

“Bahkan banyak teori yang sudah ‘berumur’ lama merupakan ‘payung’ dari sebuah temuan teori yang muncul belakangan,” tambahnya.

Nah oleh karena itu, Emrus menyampaikan dalam suatu perdebatan jangan sekali-kali berpendapat bahwa sebuah teori itu sudah ketinggalan atau tidak.

“Namun yang sangat penting diperbincangkan dalam debat adalah sejauh mana fungsi teori itu masih valid memprediksi suatu fenomena, memahami suatu fenomena, menjelaskan suatu fenomena dan melakukan perubahan sosial yang lebih menghadirkan keberadaban di tengah masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, Emrus menjelaskan pada saat debat RG mengemukakan, mudah-mudahan ‘otakmu besar’ pula. Hal tersebut ditujukan ke lawan debatnya, tidak lain kepada HS yang mengaku guru besar benaran.

Diksi ‘otakmu besar’, kata Emrus selain tidak relevan disampaikan terkait dengan tema yang dibahas, tetapi juga tidak mendidik dikemukakan di ruang publik.

“Sangat disayangkan. Sebab, kebalikan dari ‘otakmu besar’ adalah ‘otakmu kecil’. Jadi dengan mengatakan, mudah-mudahan ‘otakmu besar’, bisa dimaknai bahwa RG ingin menyampaikan lawan debatnya, HS pada posisi kemungkinan masih memiliki ‘otakmu kecil’ sekalipun sudah profesor,” katanya.

Emrus menegaskan padangan RG ini (‘otakmu besar’) sangat tidak direkomendasikan dalam sebuah debat publik.

“Sebab, ucapan RG tersebut, memposisikan lawan debat seolah tidak setara antara para peserta debat lain,” tandasnya.[]

Tagar

Related Articles

Back to top button
Close