KabarLagi.Com — Puluhan siswa dan siswi SMAN 3 Wera yang seharusnya berada di sekolah untuk menerima poses pengajaran justru harus berada di jalanan. Keberadaan mereka di jalanan dengan mengangkat beberapa pamflet dan memblokir jalan bukan tanpa alasan.
Kegiatan tersebut ternyata adalah aksi solidaritas mereka atas keprihatinan karena sekolah mereka disegel sehingga proses kegiatan belajar mengajar (KBM) terganggu. Bahkan dari beberapa sumber yang berhasil digali proses KBM selama 6 bulan ini terpaksa numpang di SMP 3 Wera.
Kepala Sekolah SMA 3 Wera, Faisal membenarkan bahwa puluhan siswa dan siswi melakukan aksi protes dengan memblokir jalan di depan SMA 3 Wera.
” Benar tadi ada aksi pemblokiran jalan oleh para siswa. Mereka protes dan sudah jenuh karena sekolah di segel sejak bulan april 2022,”ujarnya. Kamis (21/7/2022).
Menurutnya aksi yang dilakukan oleh para siswa adalah murni dilakukan mereka tanpa ada yang kordinir. Sebab mereka melakukan semua itu diluar jam sekolah.
” Karena sekolah di Blokir jam pelajaran itu terpaksa sore. Nah aksi tadi dilakukan sekitar jam 8 pagi. Makanya kami tidak mengkordinir aksi tadi dan itu murni dari siswa,”bebernya.
Ia juga membeberkan bahwa permasalahan ini sudah beberapa kali dilakukan mediasi. Bahkan dari dinas pendidikan provinsi juga sudah melakukan proses mediasi.
” Namun hingga saat ini belum ada titik temu kasus ini. Kami juga sudah berupaya juga untuk memediasi antara pihak kontraktor dengan tukang atau perkerja tapi belum ada solusi,”katanya.
Faisal berharap agar permasalahan ini bisa diselesaikan dengan baik dan cepat. Sebab proses KBM di sekolah yang dirinya pimpin sangat terganggu.
” Kami mohon kepada Gubernur dan Kepala Dinas pendidikan untuk bisa mencarikan solusi masalah ini,”terangnya.
Sementara itu, Anggota Komite SMA 3 Wera, Arifin meminta kepada semua pemangku kebijakan di Bima dan NTB agar turun terlibat menyelesaikan masalah ini.
” Ini masalah sudah lama dan tak kunjung ada solusi. Makanya para siswa melakukan aksi karena mereka muak dan jenuh,”katanya.
Ia juga menegaskan bahwa generasi penerus yang seharusnya belajar hari ini terpaksa harus turun kejalan.
” Ini kasihan generasi. Ini sudah lama tolong lah. Jika ini belum ada penyelesaian kemungkinan orang tua dan para siswa akan melakukan aksi lagi,”bebernya.
Diketahui aksi pemblokiran sekolah diduga akibat salah satu kontraktor tidak membayarkan gaji para tukang/perkerja bangunan dengan nominal Rp 94 juta. Dari sebab itu para pekerja atau tukang melakukan pemblokiran sekolah hingga saat ini
