Mr. Thomas dari Melbourne, Kontributor ALIF Sarankan Lombok Harus Berbenah untuk Menarik Wisatawan Kelas Atas

0
561

KabarLagi.Com — Lombok kembali mendapat sorotan dari wisatawan mancanegara. Mr. Thomas, seorang Kontributor ALIF (Arab Lombok International Friendship & pemerhati pariwisata Lombok) asal Melbourne yang sering berkunjung ke Lombok, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi sektor pariwisata di daerah ini.

“I become so sad every time I go to Lombok airport. I exit the airport building and I see so many taxi drivers waiting, waiting, waiting all day for a passenger. Where are the wealthy passengers? Where are the wealthy passengers who will pay for a taxi whose taxi fare will be used to help the taxi driver and his/her family. Wealthy tourists are heading to Bali because Bali has the right amount of English, Arabic, Chinese, Japanese Spanish, French languages etc. Can we say the same thing of NTB. Saya jadi sedih setiap kali ke bandara Lombok. Saya keluar dari gedung bandara dan melihat banyak sekali supir taksi yang menunggu, menunggu, menunggu seharian untuk seorang penumpang. Di mana penumpang yang kaya? Di mana penumpang yang kaya yang mau membayar taksi yang ongkos taksinya akan digunakan untuk membantu supir taksi dan keluarganya. Turis kaya menuju Bali karena Bali memiliki bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, Spanyol, Prancis, dll. yang cukup. Bisakah kita mengatakan hal yang sama tentang NTB?”

Menurutnya, Lombok belum cukup menarik bagi wisatawan kelas atas, yang sebenarnya bisa membawa dampak ekonomi lebih besar bagi masyarakat, termasuk para pengemudi taksi yang mengandalkan kedatangan turis untuk mencari nafkah. Salah satu faktor utama yang membedakan Lombok dengan destinasi wisata kelas dunia lainnya, seperti Bali, adalah kurangnya aksesibilitas bahasa internasional di berbagai layanan dan fasilitas wisata.

Saat ini, wisatawan kaya lebih memilih Bali karena mereka merasa lebih nyaman dengan lingkungan yang mendukung berbagai bahasa seperti Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, Spanyol, dan Prancis. Sementara itu, di Lombok, kemampuan berbahasa asing masih terbatas, membuat wisatawan mancanegara merasa kesulitan dalam berkomunikasi dan mendapatkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Masukan ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintahan baru NTB di bawah kepemimpinan Gubernur Terpilih, Bapak Lalu Muhammad Iqbal. Jika NTB ingin mewujudkan visinya NTB “Makmur Mendunia” melalui sektor pariwisata berkualitas, maka pembenahan sektor pariwisata menjadi prioritas utama. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan bahasa asing, pengembangan infrastruktur, serta upaya menarik penerbangan langsung dari berbagai negara menjadi langkah penting yang harus segera dilakukan.

Pertanyaannya sekarang, bisakah Bapak Lalu Muhammad Iqbal sebagai Gubernur NTB yang baru mewujudkan ini semua? Kita nantikan gebrakan beliau pada pelantikan tanggal 20 Februari nanti.

Lombok memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi wisata kelas dunia. Namun, tanpa strategi yang tepat, peluang ini bisa terus terlewatkan. Waktunya Lombok bangkit dan berbenah!