Dialog Pemajuan Kebudayaan NTB Seri 3 Resmi Dibuka, Teguhkan Langkah Pembentukan Dewan Kebudayaan di Lombok Tengah dan Lombok Timur

0
195

KabarLagi.Com— Kegiatan Dialog Pemajuan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat (NTB) Seri 3 resmi dibuka pada Senin, 01 Desember 2025, bertempat di Hotel Sima Kuta, Lombok Tengah. Dialog ini menghadirkan peserta dari dua kabupaten, yakni Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur, dengan total 50 peserta yang berasal dari beragam latar belakang, mulai dari budayawan, akademisi, perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), hingga unsur pemerintah. Seluruh rangkaian kegiatan dimulai tepat pukul 08.00 WITA dan diikuti secara penuh oleh seluruh peserta yang hadir.

Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan strategis lintas sektor untuk memperkuat arah kebijakan kebudayaan daerah sekaligus membangun kesadaran kolektif akan pentingnya tata kelola kebudayaan yang terstruktur, berkelanjutan, dan berorientasi masa depan. Sejak awal kegiatan, suasana dialog tampak dinamis dan partisipatif. Para peserta aktif terlibat dalam diskusi, berbagi pandangan, serta menyampaikan masukan berdasarkan pengalaman dan praktik kebudayaan di daerah masing-masing.

Ketua Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) NTB, Prof. Abdul Wahid, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan dialog ini memiliki tujuan strategis yang melampaui sekadar forum diskusi sesaat. Menurutnya, Dialog Pemajuan Kebudayaan ini diupayakan agar terbentuknya Dewan Kebudayaan di setiap kabupaten/kota di NTB, khususnya untuk Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur, sebagai rumah besar kebudayaan di tingkat daerah. Lembaga ini nantinya diharapkan bertugas mengawal keberlanjutan kebudayaan serta merawat nilai-nilai budaya lokal agar tetap tumbuh, hidup, dan relevan di tengah dinamika zaman.

Lebih lanjut, Prof. Abdul Wahid menekankan bahwa Dewan Kebudayaan Daerah di setiap kabupaten/kota bertujuan untuk membentuk sebuah grand design yang menjadi satu kesatuan dalam membangun kebudayaan NTB. Ia menjelaskan bahwa kebudayaan tidak boleh dikelola secara parsial, terpisah-pisah, atau sporadis, melainkan harus dirancang dalam satu arah kebijakan yang terintegrasi. Dengan demikian, penguatan budaya lokal tidak hanya berdiri sebagai upaya pelestarian semata, tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Abdul Wahid juga menyoroti pentingnya pembadanan lembaga Dewan Kebudayaan Daerah sebagai bentuk keseriusan bersama dalam merawat dan mengawal budaya NTB. Ia menegaskan bahwa keberadaan dewan kebudayaan bukan hanya sebagai simbol kelembagaan, melainkan sebagai motor penggerak yang memastikan kebudayaan daerah tetap eksis. Eksistensi tersebut, menurutnya, tidak hanya harus terlihat di tingkat daerah dan nasional, tetapi juga perlu diarahkan agar budaya NTB mampu tampil dan diakui di level internasional.

Dialog ini juga menekankan peran strategis para pemangku kepentingan kebudayaan di daerah, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, hingga masyarakat adat dan komunitas budaya, untuk bersinergi dalam satu visi besar kebudayaan. Melalui forum ini, diharapkan tidak ada lagi sekat-sekat kepentingan yang menghambat kerja bersama dalam memajukan kebudayaan. Sebaliknya, dialog ini menjadi medium untuk mempertemukan ide, gagasan, serta strategi konkret dalam pengelolaan kebudayaan yang inklusif dan partisipatif.

Di akhir kegiatan, Prof. Abdul Wahid menyampaikan harapannya agar para peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga penentu arah. Ia menegaskan bahwa seluruh peserta diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang konstruktif sebagai bagian dari capaian kegiatan sekaligus menjadi orientasi awal bagi Dewan Kebudayaan ke depan. Rekomendasi tersebut diharapkan mencakup berbagai aspek, mulai dari penguatan kelembagaan, pemetaan potensi budaya, strategi pelestarian, hingga pola pengembangan kebudayaan yang responsif terhadap tantangan zaman.

Rekomendasi yang dihasilkan dalam dialog ini nantinya akan menjadi dasar perumusan langkah-langkah strategis dalam pembentukan Dewan Kebudayaan di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur. Dengan demikian, Dialog Pemajuan Kebudayaan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi titik tolak lahirnya kebijakan dan gerakan nyata dalam pembangunan kebudayaan daerah.

Menutup sambutannya, Prof. Abdul Wahid menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah meluangkan waktu dan energi untuk hadir serta berkontribusi dalam forum ini. Ia mengucapkan terima kasih atas komitmen dan kepedulian seluruh pihak terhadap masa depan kebudayaan NTB, serta menyampaikan harapan agar dialog ini dapat melahirkan gagasan-gagasan segar yang bermanfaat bagi penguatan budaya di daerah masing-masing. “Terima kasih atas kehadiran dan partisipasi seluruh peserta. Selamat berdiskusi, semoga dialog ini menjadi ruang lahirnya pemikiran-pemikiran besar demi masa depan kebudayaan kita,” tutupnya.

Dengan dibukanya Dialog Pemajuan Kebudayaan NTB Seri 3 ini, Pemerintah Daerah bersama Dewan Kebudayaan Daerah NTB semakin meneguhkan komitmennya dalam membangun kebudayaan sebagai fondasi peradaban daerah. Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian penting dalam upaya jangka panjang untuk memastikan bahwa kekayaan budaya NTB tidak hanya terjaga, tetapi juga berkembang dan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat serta daerah di masa depan.