Penanganan Bencana Diperketat: 604 Meninggal, 464 Hilang di Aceh, Sumut, dan Sumbar

0
119

KabarLagi.Com–Upaya penanganan darurat akibat bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terus dikerahkan secara menyeluruh oleh tim gabungan. Berdasarkan laporan sementara per Senin (1/12) pukul 17.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat 604 jiwa, sementara 464 orang masih dinyatakan hilang. Operasi pencarian, evakuasi, distribusi bantuan, dan pembukaan akses wilayah terdampak terus dipacu oleh BNPB, TNI/Polri, Basarnas, serta unsur pemerintah pusat dan daerah.

Sumatra Utara: 283 Orang Meninggal, Akses Bertahap Terbuka

Di Sumatra Utara, jumlah korban jiwa kini mencapai 283 orang, menyusul ditemukannya beberapa korban yang sebelumnya hilang. Korban tersebar di sejumlah kabupaten/kota, seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Padangsidimpuan, Deli Serdang, hingga Nias. Adapun 173 penduduk masih dilaporkan hilang.

Ribuan warga kini menempati titik-titik pengungsian, antara lain:

  • 15.765 jiwa di Tapanuli Utara

  • 2.111 jiwa di Tapanuli Tengah

  • 1.505 jiwa di Tapanuli Selatan

  • 4.456 jiwa di Kota Sibolga

  • 2.200 jiwa di Humbang Hasundutan

  • 7.194 jiwa di Mandailing Natal

Pemerintah juga mulai membuka sejumlah akses darat yang sempat lumpuh total. Jalur Tarutung–Padangsidimpuan kini dapat digunakan kembali, begitu pula jalan Tarutung–Sibolga, yang sudah dapat ditembus hingga Dusun Sibalanga Jae, Kecamatan Adiankoting.

Dalam hal logistik, pengiriman tahap pertama ke beberapa daerah utama telah tuntas 100%. Sementara pengiriman ke Mandailing Natal dan Kepulauan Nias masih terbatas karena akses, sehingga distribusi udara menggunakan helikopter BNPB dan TNI AD masih diintensifkan.

Selain pengerahan ratusan personel TNI/Polri dan tim BNPB, pemerintah pusat juga memperkuat bantuan peralatan. Presiden Prabowo mengirimkan bantuan antara lain: 33 alat komunikasi, 33 genset, 14 LCR, 750 dus mie instan, serta 129 tenda untuk mempercepat penanganan lapangan.

Aceh: Korban Meninggal 156 Jiwa, Akses Transportasi Hampir Lumpuh

Provinsi Aceh menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Hingga sore hari pada Senin (1/12), tercatat 156 orang meninggal dunia, sementara 181 warga masih hilang. Wilayah terdampak meliputi Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Aceh Timur, Aceh Utara, Gayo Lues, Bireuen, Lhokseumawe, Subulussalam, dan Nagan Raya.

Jumlah pengungsi mencapai 479.300 jiwa, dengan jumlah terbanyak di Aceh Utara yang mencapai 107.305 jiwa.

Situasi infrastruktur di Aceh masih kritis. Hampir seluruh jalur utama putus total, termasuk:

  • Sumatra – Aceh Tamiang

  • Gayo Lues – Aceh Tamiang

  • Bireuen – Takengon

  • Bener Meriah – Bireuen

  • Banda Aceh – Lhokseumawe

Akses sementara hanya tersedia melalui Jembatan Gantung Awe Geutah, meski dengan mobilitas terbatas. Kementerian PUPR terus mempercepat pemulihan jaringan jalan tersebut.

BNPB juga mengaktifkan jaringan komunikasi darurat Starlink di sejumlah kabupaten/kota dan mengirimkan bantuan melalui jalur laut menggunakan Kapal Express Bahari. Bantuan mencakup hygiene kit, selimut, matras, sembako, alat kebersihan, hingga makanan siap santap. Distribusi udara juga diberlakukan untuk wilayah terisolasi.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pun diaktifkan menggunakan pesawat Cessna Caravan dengan total 3 sorti dan bahan semai mencapai 3 ton.

Sumatra Barat: 165 Jiwa Meninggal dan 114 Hilang

Sementara itu, di Sumatra Barat jumlah korban meninggal dunia mencapai 165 orang, dengan 114 warga masih hilang. Korban berasal dari wilayah Agam, Padang Panjang, Padang, Padang Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Solok, Kota Solok, hingga Pesisir Selatan. Pengungsi tercatat 122.683 jiwa atau 18.624 KK, dengan jumlah tertinggi berada di Pesisir Selatan dan Tanah Datar.

Bantuan logistik telah dikirim melalui udara dan laut. Pada Senin (1/12), tim gabungan membawa sekitar 4 ton bantuan ke Solok, Agam, dan Pasaman Barat, berupa makanan, air minum, bahan baku masak, kasur, serta obat-obatan. Jalur laut juga digerakkan menuju Nagari Sungai Batang di Agam yang masih terisolasi.

BNPB bersama TNI/Polri, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, relawan, dan mitra internasional terus memaksimalkan pencarian korban, perbaikan akses, pemulihan layanan dasar, serta distribusi kebutuhan mendesak masyarakat. Pemerintah memastikan informasi pembaruan akan terus disampaikan secara berkala sesuai perkembangan di lapangan. Sumber: BNPB