KabarLagi.Com-Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia (APPSBDI) menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan seluruh pihak yang terlibat dalam tata kelola distribusi sapi kurban tahun 2026. Tahun ini dinilai menjadi salah satu periode terbaik bagi peternak dan pedagang sapi di NTB karena seluruh kuota sapi yang dikirim ke pasar Jabodetabek terserap habis tanpa menyisakan stok.
Sekretaris Jenderal APPSBDI, Adi Bahrudin, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak sejak awal penetapan kuota pengiriman sapi yang dilakukan beberapa bulan lalu di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB.
“Perjalanan penjualan sapi kurban tahun ini benar-benar membahagiakan bagi peternak maupun pedagang. Seluruh sapi yang dikirim habis terjual tanpa sisa sehingga memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Adi, proses penetapan kuota sempat diwarnai perdebatan dan adu argumentasi antara perwakilan organisasi, pelaku usaha, dan berbagai kabupaten/kota yang sama-sama memperjuangkan kuota daerahnya masing-masing. Namun, melalui kajian ilmiah yang dilakukan Prof. Dahlan Dahlanuddin bersama tim serta penjelasan dari dinas teknis, akhirnya ditetapkan kuota yang dinilai sesuai dengan kebutuhan pasar Jabodetabek.
Ia menilai kebijakan tersebut terbukti tepat karena mampu menghindarkan NTB dari kondisi over suplai yang selama ini menjadi persoalan utama dalam distribusi sapi kurban.
“Tahun ini kuota menjadi sangat relevan dengan kebutuhan pasar. Ini harus menjadi rujukan untuk tahun-tahun mendatang agar tidak terjadi kelebihan pasokan yang menyebabkan banyak sapi tidak terserap pasar,” katanya.
APPSBDI mencatat sekitar 26 ribu ekor sapi asal Bima dan Dompu berhasil dipasarkan ke berbagai wilayah tujuan. Dari transaksi tersebut diperkirakan terjadi perputaran uang mencapai sekitar Rp570 miliar yang langsung dirasakan manfaatnya oleh peternak dan pelaku usaha di daerah.
Selain itu, distribusi sapi didukung oleh sekitar 1000 unit truk fuso dan tronton yang digunakan untuk mengangkut sapi dari wilayah Bima, Dompu, dan Sumbawa menuju pelabuhan pengiriman.
Meski demikian, APPSBDI memberikan beberapa catatan penting untuk perbaikan ke depan. Salah satunya terkait tingginya biaya transportasi darat akibat kenaikan tarif sewa armada fuso dan tronton yang dinilai cukup memberatkan pelaku usaha.
“Kami berharap pemerintah dapat menghadirkan sistem penyediaan transportasi yang lebih terintegrasi melalui BUMN atau mekanisme satu pintu sehingga biaya logistik dapat lebih terkendali,” ujar Adi.
Ia juga meminta Pemerintah Provinsi NTB untuk tetap konsisten menyediakan armada kapal pengangkut ternak di Pelabuhan Gili Mas dan tidak mengurangi jumlah kapal yang beroperasi.
“Harapan kami armada kapal tetap empat atau lima unit seperti tahun ini. Jangan sampai pelayanan yang sudah baik kembali berkurang karena kebutuhan distribusi ternak terus meningkat,” katanya.
Di sisi lain, APPSBDI masih menyoroti adanya persoalan pembayaran sapi peternak yang diduga tertahan akibat ulah oknum pemasaran yang menampung hasil penjualan pada rekening pribadi hingga mencapai miliaran rupiah. Hingga kini sebagian dana tersebut disebut belum diterima oleh sejumlah peternak.
Meski demikian, Adi menegaskan keberhasilan distribusi sapi kurban tahun 2026 patut diapresiasi. Ia menyampaikan terima kasih kepada Gubernur NTB, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Balai Karantina, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, Dinas Perhubungan, kepolisian sektor Lembar, Satgas Pengendalian Distribusi Ternak, serta seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran distribusi sapi dari NTB ke berbagai daerah di Indonesia.
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bekerja keras. Tahun ini menjadi bukti bahwa ketika kuota ditetapkan secara tepat dan didukung sistem distribusi yang baik, maka peternak dapat memperoleh manfaat ekonomi yang maksimal,” pungkasnya.
